[wr_row][wr_column span=”span12″][wr_text el_title=””]
Jagung organik tidak susah dibudidayakan. Bahkan cukup mudah dibandingkan menanam cabe, tomat, atau pun tanaman yang lain. Selain mudah dibudidayakan, keuntungan lainnya, karena permintaan pasar cukup tinggi. Target produksi tahun 2015 bakal mencapai 20 juta ton. Target produksi ini, selain untuk kebutuhan dalam negeri, juga permintaan ekpor, utamanya Amerika cukup tinggi. Tahun 2014 misalnya 3,5 juta ton.
Muh.Waqas Mahmoed misalnya. Warga Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan ini pun tidak ketinggalan memanfaatkan peluang ini. Apalagi, Sulawesi Selatan memiliki potensi penanaman jagung seluas 450 ribu hektar. Sementara saat ini baru tergarap 250 ribu hektar.
Bersama karyawannya, Muh Waqas Mahmoed menanam jagung manis organik pada areal seluas 1 hektar di Dusun Marannu, Desa Pattalasang, Kecamatan Pattalasang. Tidak lain, karena dari segi agrobisnis, jagung manis mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi. Bahkan, diminati pasar, bukan saja dalam negeri, melainkan pasar internasional.
“Saat ini saya titikberatkan pada penanaman jagung manis organik. Peluang pasarnya banyak, selain bisa dijual ke pedagang pengumpul, juga menjualnya ke pasar moderen, seperti mal-mal di Makassar. Harganya lumayan baik, Rp800 per buah. Kalau soal omset itu rahasia,” ujar Waqas, sapaan Muh Waqas Mahmoed. Dia menambahkan, dalam satu hektar, tanaman bernama latin Zea Mays Saccharata mampu menghasilkan 3,5 ton hingga 4,5 ton.
Menurut pria kelahiran Jakarta, 29 Oktober 1961 ini, keunggulan jagung manis organik dari jagung biasa terletak dari nilai jual. Jagung manis menawarkan harga yang lebih tinggi, sehingga animo budidaya jagung manis tak pernah surut. Apalagi, bisa dikonsumsi langsung seperti jagung bakar atau jagung rebus, pasar jagung manis terbuka hingga ke tingkat retail. Dirinya tidak mau kalah bersaing dengan keberhasilan petani jagung di dua kabupaten tetangganya, Jeneponto dan Bantaeng yang memproduksi jagung hingga mencapai 10 ton per hektar.
Apalagi, demikian ayah empat orang anak ini, budidaya jagung manis bisa memanfaatkan kebun atau sawah, dengan catatan tidak tergenang air. Lahan ini juga harus mengandung unsur hara yang cukup. Seperti nitrogen (N) dalam jumlah besar. Pemberian pupuk harus memperhatikan keseimbangan antara nitrogen, kalium (K) dan pospat (P).
Setelah itu dilakukan pengolahan tanah dengan cara pembuatan bedengan, yang berfungsi sebagai pembuangan air. Lebar bedengan 1 meter dengan ketinggian 20-30 cm. Sedangkan jarak antar bedengan 30 cm dan dalam satu bedengan ditanami 2 lajur/baris tanaman. Bedengan ini sekaligus berfungsi sebagai drainase air. Setelah pengolahan lahan langsung diberikan pupuk dasar organik/ kompos. Tujuannya, untuk memenuhi unsur N dan unsur lainnya, kebutuhan pupuk dasar dalam budidaya jagung manis adalah 5 ton pupuk organik perhektar.
Pemupukan dasar untuk jagung manis organik sebaiknya campuran dari pupuk kotoran ayam dengan kotoran sapi atau kambing dengan komposisi 1:1. Pupuk kotoran ayam memberikan kadar N yang banyak dan lebih cepat terurai, sedangkan pupuk kotoran sapi atau kambing lebih kaya akan K dan P. Kebutuhan pupuk dengan metode organik adalah sekitar 5 ton per hektar.
“Penanaman jagung manis yang paling baik adalah cara tunggal. Yaitu, membuat lubang sedalam 23 cm, kemudian dimasukan 2 butir benih jagung. Setelah itu ditutup dengan tanah dan pupuk kompos, kemudian siram agar kelembaban tanah terjaga. Untuk satu hektar dibutuhkan benih 8 kg,” ujar alumni Universitas Negeri Jenderal Sudirman Purwakata Jawa tengah, 1987 ini, seraya menambahkan, jarak tanam yang dibutuhkan antara 60-75 cm, sehingga untuk satu hektara akan menghasilkan 34.000-37.000 populasi tanaman per hektar. Penanaman dan perawatan penanaman jagung manis yang paling baik adalah dengan cara tunggal. Buatlah lubang sedalam 2-3 cm kemudian masukan 2 butir benih jagung. Kemudian setelah itu tutup dengan tanah dan pupuk kompos, kemudian siram agar kelembaban tanah terjaga. Benih yang dibutuhkan adalah 8 kg per hektar. (din)
[/wr_text][/wr_column][/wr_row]