Menko Pangan, Zulkifli Hasan bersama Pengurus Wahdah Islamiyah di Muktamar V
Jakarta, Inspirasimakassar,id:
Persoalan pengentasan kemiskinan ekstrem kerap digambarkan sebagai sebuah maraton panjang yang melelahkan. Butuh strategi berlapis, birokrasi yang panjang, dan waktu bertahun-tahun untuk melihat hasilnya. Namun, ada kalanya sebuah situasi mendesak menuntut tindakan yang tidak biasa—sebuah sprinter dadakan yang berlari kencang demi menyelamatkan mereka yang tertinggal di garis belakang. Crash Program di bidang pangan misalnya.
Kemiskinan ekstrem bukan sekadar angka statistik tentang rendahnya pendapatan. Ia adalah wajah dari kerentanan—tentang perut-perut yang lapar di pagi hari, kecemasan orang tua yang tak mampu membelikan seragam sekolah, dan hilangnya asa di tengah himpitan hidup. Di sinilah letak urgensi dari sebuah langkah luar biasa.
Program akselerasi penanganan kemiskinan ekstrem yang diinisiasi pemerintah ini menuntut kehadiran kolosal dari seluruh elemen bangsa. Negara tidak bisa berjalan sendiri. Di sinilah resonansi kebangsaan itu bergetar ketika ormas Islam seperti Wahdah Islamiyah secara tegas menyatakan dukungannya.
Demikian yang mengemuka ketika Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zukkifli Hasan memberikan motivasi dan suport di depan peserta Muktamar V Wahdah Islamiah di Jakarta, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Crash Program pangan yang dimaksud Zulhas—sapaan akrab menteri yang juga politisi Partai Matahari Terbit—PAN itu, merupakan langkah cepat, terpadu, dan bersifat darurat atau akselerasi yang dilakukan pemerintah untuk mengejar target produksi, mengatasi kerawanan, atau mendongkrak ketersediaan komunitas pangan tertentu dalam waktu singkat.
H. Ahyar Amnur—salah seorang peserta Muktamar V Wahdah Islamiah dari Sulawesi Selatan menyambut baik motivasi Zulhas yang saat itu didampingi Menteri Koperasi, Ferry Juliantono tersebut. Setidaknya, Kepres no 35 yang terkaitan langsung dengan sektor pangan dan pertanian.
Menurut H. Ahyar Amnur, dalam arahannya, Zulhas juga mengharapkan komunitas komunitas muslim di antaranya Wahdah Islamiyah, dapat mensuskeskan program swasembada pangan. Termasuk didalamnya koperasi pertanian, koperasi nelayan, MBG, hingga panangan sampah.
“Pak menteri juga mendorong sinergitas antara Ormas Islam dengan pengusaha pengusaha, agar membangkitkan peran sertanya mengeluarkan masyarakat dari kemiskinan ekstrem. Termasuk, memberikan alat tangkap ikan, atau dapat dibuatkan pabrik es, sehingga tidak lagi terkendala dengan hasil tangkapan mereka, seperti yang dilakukan negara negara tetangga,” tuturnya.
Untuk itu, jelas H.Ahyar Amnur yang juga Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Pelaporan, dan Keuangan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar ini, crash program yang digaas Presiden Prabowo Subianto ini hadir sebagai intervensi cepat, taktis, dan tepat sasaran. Program ini menyasar langsung lambung-lambung yang kerap kosong, keluarga-keluarga yang hari esoknya masih abu-abu, dan kelompok masyarakat paling rentan yang berada di tubir kemiskinan ekstrem.
“Program akselerasi penanganan kemiskinan ekstrem yang diinisiasi pemerintah ini,  menuntut kehadiran kolosal dari seluruh elemen bangsa. Negara tidak bisa berjalan sendiri. Di sinilah resonansi kebangsaan itu bergetar ketika ormas Islam seperti Wahdah Islamiyah secara tegas menyatakan dukungannya. Langkah ini merupakan manifestasi nyata dari teologi Islam sosial, dimana keimanan yang kokoh harus berbuah pada kepedulian perut yang lapar,” tutup Ahyar. (din pattisahusiwa)




