Mekkah, Inspirasimakassar,id:
Ketegangan fisik, dan spiritual saat melakukan ibadah haji, seringkali berpuncak pada ritual melontar jumrah di Jamarats, Mina. Saat itu, para jemaah haji berada di tengah tengah ‘lautan’ manusia yang bergerak dengan ritme yang cepat, usai wukuf di Arafah.
Karena itu, dibutuhkan energi yang dihemat, sehingga jarak yang dekat ke Jamarats menjadi incaran jamaah. Demikian Ketua Umum Komunitas Travel Alumni Al-Azhar Republik Indonesia (ASPHURI)– H.Faisal Ibrahim Surur, di sela sela audens dengan Mudier Duyuful Bait—penyedia layanan Armuzna di Arafah dan Mina, Mr.Osmah Danis.
Audens yang dihadiri pimpinan ASPHURI lainnya di Mekkah, Ahad, 17 Mei 2026 itu juga membahas, bagaimana jamaah haji yang tergabung dalam biro perjalanan Saudi Patria Wisata dapat dimudahkan, khususnya saat melontar jumrah dengan baik dan tenang.
“Tentunya, melontar jumrah itu diikuti jutaan jemaah. Karena itu dibutuhkan fisik yang kuat. Fisik yang kuat itu tentunya didasari oleh energi yang dihemat. Karena itu, kami memanjakan jemaah yang tergabung dalam ‘Saudi Patria Wisata’ tetap berada dalam jarak yang dekat ke Jamarats, sehingga jamaah memiliki banyak waktu untuk melakukan aktivitas spiritual lainnya, seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau bermunajat di dalam tenda,” ujarnya.
Kesyukuran H.Faisal Ibrahim Surur lantaran Mr.Osmah Danis menyampaikan bahwa, khusus jamaah yang tergabung dalam Saudi Patria Wisata mendapatkan maktab 111–maktab yang berlokasi sangat strategis sehingga mempermudah mobilitas jemaah.
“Jadi, Maktab 111 ini paling dekat dengan tempat pelontaran jumrah. Jika dihitung, jaraknya hanya sekitaran 50 hingga 100 meteran saja. Maktab 111 ini juga sekaligus dilengkapi tenda ber-AC yang luas, dan kasur yang rapi, serta layanan katering,” tuturnya.
H.Faisal Ibrahim Surur mengakui, sebagai Direktur Utama, tentunya dirinya sangat menghargai pelibatan Mr.Osmah Danis bersama jajarannya yang berupaya mendapatkan mahtab dekat dengan tempat pelemparan jumrah di Mina.
“Selain dekat dengan pelemparan jumrah, kami juga dapat memastikan bahwa, kondisi tenda bagi jemaah yang tergabung dalam Saudi Patria Wisata bukan saja dalam kondisi baik, tetapi kapasitasnya VVIP atau setara dengan tenda bintang lima. Ini merupakan bagian dari pelayanan jemaah, sehingga jemaah bisa lebih menikmati Naparsani, atau selama tiga hari melontar jumrah tanggal 13 Zulhijjah di Mina dengan sempurna, setelah itu kembali ke rumah transit tawaf, dan empat hari kemudian kembali ke tanah air. Sementara itu, jamaah haji dari travel lainnya hanya dua malam,” urainya.
Sebelum menutup pernyataannya, H.Faisal Ibrahim Surur mengemukakan, keberadaan maktab yang strategis adalah bentuk konkret dari implementasi kemudahan bagi jamaah haji, terutama bagi lansia dan jamaah yang memiliki kondisi fisik lemah.
“Tentunya, Saudi Patria Wisata memberikan akses bagi jemaah haji untuk melontar jumrah dengan lebih mudah. Ini merupakan salah satu dari bentuk kepedulian yang sangat dihargai dalam Islam. Mengingat, menjaga keselamatan jiwa, adalah salah satu dari lima tujuan utama syariat,” tutupnya.
Dikonfirmasi terpisah, pembimbing ibadah haji Saudi Patria Wisata, H.Ashar Tamanggong mengemukakan, kedekatan maktab dengan area Jamarats, bukanlah tentang kemewahan, melainkan tentang “memperpendek jarak menuju ketaatan”. Kedekatan itu sebagai penanda membantu seorang jemaah haji untuk tetap fokus pada inti ritual merupakan hal penting.
H.Ashar Tamanggong melihat, bagi jamaah yang ditempatkan di lokasi strategis tersebut, seyogyanya bersyukur. Pasalnya, mereka dapat memanfaatkan waktu yang hemat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
‘Kemudahan yang Allah berikan melalui fasilitas jamaah, sejatinya adalah undangan untuk meningkatkan kualitas ibadah. Artinya, jika jemaah sudah kembali ke daerah asal, hati benar-benar telah “dilempar” dari segala sifat buruk dan kembali suci seperti bayi yang baru lahir,” urai Doktor dengan predikat Cumlaude, di Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI), dalam bidang Manajemen Pendidikan Islam itu melihat, selama Saudi Patria Wisata memahami bahwa kenyamanan jamaah adalah prioritas utama tersebut.
ATM—sapaan akrab penulis buiku ‘Langit tak Pernah Offline’ itu melihat, selama di Mina, selama bermalam di Mina, pihaknya akan mengisi setiap usai shalat dengan ceramah, atau kajian kajian bernuansa islami.
“Jadi, kajian islami itu, tentunya untuk menambah khasanah keislaman bagi jamaah, serta meningkatkan kualitas pemahaman, sehingga diharapkan setelah pulang mereka bukan sekadar bergelar haji, tetapi mendapat peningkatan dari praktek keagamaan. Ini berarti, Travel Saudi Patria Wisata benar benar menjadi contoh, atau barometer di tengah tengah masyarakat Islam di manapun berada,” urai Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar periode 2021-2026 ini. (din pattisahusiwa).




