Jumat, Maret 27, 2026
Google search engine
BerandaBeritaOpiniRamadhan Bersama BAZNAS (18). ZIS : Investasi sebagai Jalan Menuju Ridha Allah

Ramadhan Bersama BAZNAS (18). ZIS : Investasi sebagai Jalan Menuju Ridha Allah

Kultum (Kuliah Terserah Antum)

By ATM

Ada satu jenis investasi yang tidak pernah rugi, tidak terpengaruh inflasi, tidak jatuh karena krisis ekonomi, dan tidak akan bangkrut meskipun dunia sedang gonjang-ganjing. Investasi itu namanya ZIS: Zakat, Infak, dan Sedekah. Ini bukan investasi dunia, tapi investasi akhirat. Dan yang paling menarik, keuntungannya bukan hanya nanti di akhirat, tapi juga terasa di dunia.

Kalau kita bicara investasi, biasanya orang langsung teringat saham, emas, tanah, atau deposito. Orang rela duduk berjam-jam memantau grafik naik turun. Bahkan ada yang lebih rajin mengecek aplikasi investasi daripada mengecek waktu shalat. Begitu harga saham naik sedikit saja, hatinya senang. Tapi begitu turun sedikit, langsung panik.
Padahal ada investasi yang grafiknya selalu naik: investasi kepada Allah melalui ZIS.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus biji.”
(QS. Al-Baqarah: 261)

Bayangkan, satu biji menjadi tujuh ratus. Kalau ini logika bisnis dunia, pasti semua orang langsung ikut. Tapi karena ini bisnis akhirat, justru banyak yang ragu.
Manusia sering percaya pada investasi yang belum tentu untung, tapi ragu pada janji Allah yang sudah pasti.

Ada orang yang dengan santai memasukkan uang jutaan ke investasi yang belum jelas. Tapi ketika diminta zakat atau sedekah, tiba-tiba jadi ahli matematika.
“Kalau saya zakat sekarang, nanti uang saya berkurang.”
Padahal sebenarnya bukan berkurang, justru sedang dipindahkan ke rekening yang lebih aman: rekening akhirat.

Kalau harta kita bisa bicara, mungkin dia akan berkata:
“Tolong keluarkan zakatku, supaya aku tidak menjadi musibah.”

Karena dalam Islam, harta yang tidak dizakati sebenarnya membawa risiko. Ia bisa menjadi sebab hilangnya keberkahan. Banyak orang hartanya banyak, tapi hidupnya tidak tenang. Rezekinya besar, tapi masalahnya juga besar.
Sebaliknya, orang yang rajin berzakat dan bersedekah sering merasakan sesuatu yang luar biasa: ketenangan dan keberkahan.

Itulah rahasia ZIS.
Zakat membersihkan harta.
Infak melapangkan rezeki.
Sedekah membuka pintu keberkahan.

Ada sebuah kisah sederhana. Ada seseorang yang selalu bersedekah setiap kali menerima rezeki. Ketika ditanya kenapa dia begitu rajin memberi, dia menjawab dengan santai:
“Saya ini cuma kurir. Allah titipkan rezeki lewat saya untuk orang lain.”

Bayangkan kalau semua orang punya cara berpikir seperti ini. Dunia akan jauh lebih indah. Tidak akan ada orang kelaparan di tengah kota yang penuh gedung tinggi.
Di sinilah ZIS menjadi kekuatan umat.

Zakat bukan sekadar ibadah pribadi, tapi juga sistem sosial. Dengan zakat, yang kaya membantu yang membutuhkan. Dengan infak dan sedekah, jurang kesenjangan bisa diperkecil.

Makanya dalam sejarah Islam, ketika zakat dikelola dengan baik, kemiskinan bisa berkurang drastis. Bahkan pernah ada satu masa dimana kita sulit mencari orang yang berhak menerima zakat.
Ini menunjukkan bahwa ZIS bukan hanya soal pahala, tapi juga solusi sosial.

Namun ada satu hal penting: kepercayaan dan pengelolaan.
Karena itu dalam konteks sekarang, lembaga pengelola zakat menjadi sangat penting. Melalui lembaga yang terpercaya, zakat bisa disalurkan lebih tepat sasaran dan lebih berdampak.

Sedikit-sedikit, kalau dikumpulkan bersama, bisa menjadi kekuatan besar untuk membantu pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan berbagai program sosial lainnya.

Kadang kita berpikir sedekah kecil tidak berarti. Padahal di sisi Allah, tidak ada sedekah yang kecil.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Lindungilah diri kalian dari api neraka walau hanya dengan sebutir kurma.”

Artinya sekecil apa pun kebaikan, tetap bernilai besar di sisi Allah.
Masalahnya bukan pada jumlahnya, tapi pada keikhlasannya.
Ada orang yang sedekahnya kecil tapi penuh keikhlasan, nilainya bisa jauh lebih besar daripada sedekah besar yang penuh pamer.

Karena tujuan akhir dari ZIS bukan sekadar membantu orang lain, tapi mencari ridha Allah.
Ridha Allah itulah investasi paling besar dalam hidup.
Kalau Allah sudah ridha, hidup akan terasa ringan. Masalah boleh datang, tapi hati tetap tenang. Rezeki boleh sederhana, tapi terasa cukup.
Sebaliknya, kalau ridha Allah tidak kita kejar, sebanyak apa pun harta kita, tetap saja terasa kurang.

Maka bulan Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memperkuat investasi akhirat ini. Di bulan ini pahala dilipatgandakan, pintu-pintu kebaikan dibuka lebar.
Ibarat pasar diskon besar-besaran, hanya orang yang sayang kalau melewatkannya.

Jadi kalau ada investasi yang pasti untung, yang dijamin langsung oleh Allah, dan keuntungannya berlipat-lipat, mengapa kita masih ragu?
Mari kita jadikan Zakat, Infak, dan Sedekah sebagai gaya hidup, bukan sekadar kewajiban tahunan.

Karena pada akhirnya nanti, bukan harta yang kita simpan yang akan menyelamatkan kita. Tapi harta yang kita keluarkan di jalan Allah.
Dan siapa tahu, di antara sedekah yang kita keluarkan itu, ada satu yang membuat Allah berkata:
“Aku ridha kepadamu.”
Kalau Allah sudah ridha, itulah keuntungan terbesar dalam hidup. Wallahu A’lam. (ATM–Ashar Tamanggong/Ketua BAZNAS Kota Makassar)

Din Pattisahusiwa
Din Pattisahusiwahttps://inspirasimakassar.id
Wartawan kriminal dan politik harian Pedoman Rakyat Ujungpandang dan sejumlah harian di Kota Daeng Makassar, seperti Ujungpandang Ekspres (grup Fajar) dan Tempo. Saat ini menjadi pemimpin umum, pemimpin perusahaan, dan penanggungjawab majalah Inspirasi dan Website Inspirasimakassar.com. Sarjana pertanian yang juga Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali--kini Universitas Islam Makassar ini menyelesaikan pendidikan SD di tanah kelahirannya Siri Sori Islam Saparua, SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon. Aktif di sejumlah organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Di organisasi kedaerahan, bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuhepaly ini beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan memiliki dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa. Pernah diamanahkan sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar. Kini, Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar.
RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments