Maros, Inspirasimakassar,id:
Penyaluran air bersih adalah proses pengambilan, pengolahan, dan pengiriman air dari sumber air baku hingga sampai ke tangan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di Maros salah satunya.
Pemerintah Kabupaten Maros bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta sejumlah stakeholder terus menyiapkan langkah penanganan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat hingga musim hujan tiba.
Bupati Maros, Chaidir Syam mengemukakan, Pemerintah Kabupaten Maros selalu memantau perkembangan cuaca berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dari pemantauan tersebut, pihaknya menapat informasi jika puncak fenomena El Nino diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, sedangkan hujan baru diprediksi mulai turun pada Oktober mendatang.
“Kita harapkan, BPBD selalu standby dan beberapa stakeholder mulai menyalurkan air bersih ke daerah-daerah yang mengalami kekeringan,” tuturnya, seraya menyebut, sedikitnya enam kecamatan di Kabupaten Maros terdampak kekeringan di antaranya Kecamatan Bontoa, Lau, Marusu, dan Maros Baru.
Sementara itu, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Maros menyalurkan air bersih ke sejumlah wilayah di Kabupaten Maros. Penyaluran air bersih untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan memasuki musim kemarau.
Ketua Harian PMI Kabupaten Maros, Suryadi Ningrat, mengatakan hingga awal Agustus 2026, PMI telah mendistribusikan sebanyak 108.000 liter air bersih. “Saat ini sudah ada sekitar 17 tangki yang telah disalurkan,” ujarnya pada media , Ahad 2 Agustus 2026.
Penyaluran difokuskan ke wilayah yang mengalami krisis air bersih, yakni Kecamatan Bontoa dan Maros Baru. Di Kecamatan Bontoa, bantuan air bersih telah disalurkan ke Kelurahan Bontoa, Desa Ampekale dan Desa Tunikamaseang. (titi)




