Makassar, Inspirasimakassar,id:
Sulawesi Selatan, salah satu daerah “lumbung pangan” nasional. Meski provinsi dengan 21 kabupaten dan 3 kota ini memproduksi pangan dalam jumlah besar, namun jika membiarkan sisa-sisa makanan terbuang di piring-piring makan, atau menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA), maka sangat miris. Itulah mengapa, Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Selatan sejak jauh hari menggagas program “Stop Boros Pangan”.
Dalam rangka mendukung Program Pencegahan dan Pengurangan Sisa Pangan tahun 2026, serta meningkatkan sinergi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam upaya penyelamatan Pangan, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Selatan menggelar Rapat Koordinasi dan Advokasi penyelamatan Pangan, sekaligus Sosialisasi Gerakan Stop Boros Pangan.
Rakor yang dibuka Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Selatan Kemal Redindo Syahrul Putra, di aula Dinas Ketahanan Pangan Sulsel, Kamis, 18 Juni itu diikuti 40 peserta. Yakni, Wakil Ketua IV Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar, H.Jurlan Em Saho’as dan staff pelaksana Syarifuddin Pattisahusiwa, BAZNAS Kabupaten Gowa dan BAZNAS Kabupaten Maros (Rohama Daud–Wakil Ketua IV Bidang Adminitrasi, Umum, SDM, serta Nuraini Hutajulu– Wakil Ketua III Bidang Pelaporan dan Keuangan).
Hadir pula perwakilan dari Dinas Ketahanan Pangan Kota Makassar, Maros, dan Gowa, Permabudhi Sulsel, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Makassar, Indonesia Hotel General Manager Associaton (IGHMA), Royal Bay Hotel, Kyriad Hotel, Remcy Hotel, TP KK Sulsel, TP.PKK Kota Makassar, SPPG Kota Makassar, serta Tim Kerja Gerakan Keselamatan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Sulsel.
Gerakan ini hadir untuk menyadarkan masyarakat bahwa, masalah ketahanan pangan tidak hanya soal memproduksi lebih banyak, tetapi juga soal mengelola apa yang sudah tersedia secara bijak.
“Habiskan Isi Piringmu”, demikian narasi narasi yang mengemuka baik dalam diskusi diskusi, maupun pemaparan materi oleh Direktur Kewaspadaan Pangan dan Gizi di Indonesia, Nita Yuliani melalui zoom.
Kegiatan sehari ini tidak semata pertemuan formal di dalam ruangan, melainkan sebuah seruan untuk mengubah paradigma masyarakat—dari budaya konsumsi berlebih menuju kesadaran keberlanjutan.
Rakor ini selain mendorong adanya sistem pengelolaan sisa pangan yang lebih baik, termasuk potensi penyaluran makanan layak konsumsi kepada pihak yang membutuhkan (food banking), sekaligus menegaskan bahwa, gerakan ini adalah salah satu instrumen penting untuk menekan angka food loss dan food waste di Sulawesi Selatan.
Langkah ini sejalan dengan target nasional dalam mendukung ketahanan pangan yang tangguh di masa depan.
Dalam paparannya, Nita Yuliani yang aktif memimpin berbagai program strategis terkait penyelamatan pangan, penanganan sisa pangan (food waste) dan peningkatan gizi masyarakat itu juga mengucapkan terima kasih kepada BAZNAS yang selalu aktif dalam gerakan penyelamatan pangan.
Usai kegiatan yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan tersebut, Wakil Ketua IV Bidang Adminitrasi, Umum, dan SDM BAZNAS Kota Makassar, H.Jurlan Em Saho’as menggarisbawahi, stop boros pangan, merupakan sebuah ajakan moral kembali ke masyarakat.
“Kita ketahui bahwa, menyisakan makanan bukan lagi sekadar kebiasaan, melainkan tindakan yang berdampak pada ketahanan ekonomi keluarga. Gerakan stop boros pangan merupakan salah satu instrumen penting untuk menekan angka food los dan food waste di daerah,” ujarnya.
H.Jurlan mengakui, dua tahun lalu, lembaga pemerintah nonstruktural beralamat di Jalan Teduh Bersinar No 5 Makassar itu telah melakukan kerjasama dengan PHRI Kota Makassar, kaitannya dengan sisa pangan untuk disalurkan kepada mustahik.
“Sekadar diketahui mustahik yang menerima manfaat dari BAZNAS Makassar itu bukan semata fakir miskin yang membutuhkan bantuan makanan semata, melainkan mereka juga memiliki keterampilan bertani. Artinya, sisa sisa makanan bisa diolah menjadi penyubur tanaman, alias menjadi pupuk bagi tanaman,” tutur sutradara air mata jendi ini.
Sebelum mengakhiri komentarnya, H.Jurlan melihat, Rakor ini adalah benih. Untuk itu, dirinya berharap, masyarakat, mulai dari rumah tangga, sekolah, hingga pelaku usaha, mampu menjadikan sikap ‘Stop Boros Pangan’ sebagai identitas baru masyarakat yang beradab dan menghargai alam. (din pattisahusiwa/tim media baznas makassar)




