Salah satu program baznas makassar, jumat mubarakah. (Foto:Nyong)
Ambon, Inspirasimakassar,id:
Sepuluh kandidat terbaik yang telah lolos seleksi administrasi dan uji kompetensi Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar, belum lama ini, harus berhadapan langsung dengan jajaran Pimpinan BAZNAS-RI, untuk verifikasi faktual, atau wawancara calon pimpinan, Kamis, 4 Juni hari ini.
Mereka masing masing Abdul Aziz, Ahyar Amnur, S.Pd., H. Baharuddin Hafid, Fahmi, S.HI, Hendra Wijaya, Lc, Komaruddin, S.Ag. Serta Muhammad Yunus Usman Sofyan, M.Pd.I., Dr.Yusran Sofyan, dan Yusriani,S.KM,M.Kes.
Verifikasi faktual di Ruang Sipakalebbi, lantai II Balikota Makassar, tepat pukul 09.00 Wit hari ini bukan sekadar formalitas, melainkan gerbang penentu lima besar definitif yang bakal menahkodai pengelolaan zakat di kota yang kini dipimpin Walikota dan Wakil Walikota (Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham) ini.
Proses ferifikasi ini memang menyita perhatian. Pasalnya, publik Makassar berharap, melalui seleksi ketat yang diawasi langsung pimpinan BAZNAS-RI, agar BAZNAS Makassar akan mendapatkan pimpinan yang mampu membawa lembaga ini menuju level up.
Harapannya agar, BAZNAS bukan lagi dipandang sebagai badan penyalur bantuan semata, melainkan sebagai mesin perubahan sosial yang menggerakkan roda ekonomi umat di Makassar.
Pimpinan BAZNAS RI turun langsung untuk memastikan bahwa calon pimpinan yang terpilih bukan hanya memiliki kapasitas manajerial, melainkan sekaligus memiliki integritas yang tak tergoyahkan, sekaligus memiliki visi futuristik dalam mengentaskan kemiskinan berbasis zakat di Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan ini.
Dalam sesi wawancara nantinya berlangsung mendalam, tim veriifikasi tidak hanya membicarakan soal angka, melainkan juga menggali sejauh mana komitmen kandidat dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas lembaga amil beralamat di Jalan Teduh Bersinar No 5, Kecamatan Rappocini, Makassar tersebut.
Dimana, ke sepuluh calon pimpinan BAZNAS yang telah ditetapkan tim seleksi akan dicecar dengan berbagai pertanyaan strategis. Fokus utamanya adalah bagaimana BAZNAS Makassar mampu beradaptasi di era berkemajuan saat ini. Utamanya, gagasan tentang “Zakat Produktif”, di mana dana zakat tidak sekadar untuk konsumsi, tetapi diubah menjadi modal usaha bagi UMKM lokal.
Sekadar diketahui, dunia zakat saat ini, tidak bisa lagi berjalan di tempat. Karena itu, kesepuluh kandidat yang akan dipilih lima calon definitif yang benar benar paham, bagaimana mentransformasi muzakki (pemberi zakat) konvensional menjadi digital-savvy, serta bagaimana menyalurkan mustahik (penerima zakat) agar mampu mandiri secara ekonomi.
Melalui verifikasi faktal ini pula, para calon ditantang untuk memaparkan strategi peningkatan Pengumpulan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang selama ini menjadi tulang punggung program di BAZNAS Makassar.
Sepuluh besar kandidat yang mayoritas terdiri dari akademisi, praktisi ekonomi syariah, hingga tokoh pemberdayaan masyarakat ini, tampak berusaha menjawab setiap pertanyaan dengan lugas.
Setelah proses wawancara ini rampung, BAZNAS RI akan menelaah seluruh aspek—mulai dari rekam jejak, psikotes, hingga performa wawancara—sebelum akhirnya menetapkan lima besar pimpinan yang akan dilantik untuk masa bakti 2026-2031.
Saat ini, BAZNAS Makassar membutuhkan pundak yang kuat untuk memikul amanah dari muzakki dan kebutuhan hidup mustahik.
Hubungan antara muzaki dan mustahik melalui BAZNAS adalah sebuah ekosistem keberkahan. Ketika zakat dikelola secara profesional, transparan, dan tepat sasaran, maka yang terjadi bukan hanya perpindahan harta, melainkan perpindahan energi positif. Untuk itu dibutuhkan pemimpin yang benar benar nampu dan mendapat kepercayaan publik (publik trust). (din pattisahusiwa/tim media banzas makassar)




