Maros, Inspirasimakassar,id:
Prevalensi stunting nasional di Indonesia telah turun menjadi 19,8% berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Pemerintah menargetkan angka stunting turun lebih lanjut menjadi 14,2% pada tahun 2029 dan mencapai 5% pada tahun 2045. Termasuk di Kabupaten Maros.
Percepatan penurunan stunting membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Semangat tersebut diwujudkan melalui Sosialisasi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) Tingkat Kabupaten Maros Tahun 2026 yang dilaksanakan di Gedung B Kantor Bupati Maros, Kamis, 6 Agustus 2026.
Bupati Maros, Chaidir Syam, menyampaikan terimakasih kepada para perusahaan yang beroperasi di kabupaten Maros atas partisipasi dan bantuannya menangani stunting dalam program Genting serta memberikan apresiasi tinggi kepada para kader sebagai garda terdepan yang bekerja secara maksimal sehingga angka stunting bisa menurun.
Bupati dua periode yang kini berpasangan dengan Muetazim Mansyur sebagai Wakil Bupati itu mengajak seluruh komponen agar bersama-sama bekerja keras untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terutama ibu hamil, supaya yang lahir nanti terbebas dari stunting, yang terpenting adalah pencegahannya.
Kegiatan sosialisasi Genting ini berlangsung di komplek kantor bupati Maros gedung Baruga B, Melalui kegiatan yang berlangsung di gedung Baruga B Kompleks Kantor Bupati Maros dihadiri Sitti Sulfiani mewakili kantor perwakilan BKKBN Sulsel, kepala kepala Puskesmas, penyuluh KB, paran camat dan perwakilan perusahaan yang menjadi bapak asuh stunting itu diharapkan agar seluruh mitra pentahelix, pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, komunitas, dan seluruh elemen masyarakat diajak untuk mengambil peran nyata sebagai Orang Tua Asuh bagi keluarga berisiko stunting.
Kepedulian yang diberikan, sekecil apa pun, dapat menjadi harapan besar bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita agar tumbuh sehat, kuat, dan berkualitas.*
Kepala Dinas PPPA Dalduk KB kabupaten Maros Muhammad Haris, dalam sambutannya mengatakan, program Genting ini merupakan suatu terobosan baru untuk mencegah stunting, karena ini melibatkan beberapa unsur sebagai orang tua asuh.
Keberhasilan program ini , lanjut Haris, itu berkat kerja sama semua unsur terkait mulai tingkat kabupaten, kecamatan sampai ke tingkat desa dan kelurahan, terkhusus para kader sebagai garda terdepan di wilayahnya.
Sebenarnya, katanya, tidak semata anak yang sudah positif stunting maupun yang rentang stunting, akan mendapat bantuan dan penanganan secara massif sampai ke tingkat RT. Berharap dengan adanya program ini penanganan dan pencegahan stunting di kabupaten Maros bisa berjalan dengan baik, untuk saat ini kabupaten Maros berada pada posisi ke empat terendah di Sulsel. (titi)




