Makassar, Inspirasimakassar,id:
Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Makassar menggelar terawih bersama, sekaligus memperingati malam Nuzulul Qur’an. Bertindak sebagai imam pada terawih adalah Gibran Latukau, sementara penceramah adalah Ustazd Salahuddin Rahman Al Ayyubi.
Para sesepuh yang hadir di peringatan turunnya Al-Qur’an di kediaman Rio Subagio, BTN Makkio Baji Blok D5 No 16-17 itu di antaranya KH. Mahyuddin Latuconsina, dan Dra.Hj.Dja Latuconsina/Putuhena, serta mahasiswa asal provinsi rempah rempah tersebut, Jumat, 6 Maret.
Ustazd Salahuddin Rahman Al Ayyubi dalam ceramahnya mengurai panjang lebar akan fungsi dan manfaat Al-Qur’an–kitab suci yang diturunkan kepada ummat Islam di masa kenabian Muhammad SAW itu.
Salahuddin Rahman mengemukakan, Nuzulul Qur’an adalah momen turunnya wahyu pertama sebagai petunjuk hidup, pembeda hak dan batil, serta pedoman mencapai kesempurnaan akhlak. Peristiwa ini memotivasi peningkatan iman dan ketaqwaan, serta menegaskan kemuliaan Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar yang diturunkan secara bertahap untuk memudahkan pemahaman dan pengamalannya.
Sebelumnya, KH. Mahyuddin Latuconsina mengakui, memperingati Nuzulul Qur’an bersama orang Islam Maluku di perantauan, khususnya di Makassar seakan membisikkan kisah kepada pasir, dan ombak yang menari di bawah cahaya—metafora indah yang menggambarkan pertemuan antara elemen alam (air, daratan, dan cahaya matahari/bulan yang menciptakan harmoni visual memukau.
Mantan Kakanwil Kementerian Agama Maluku itu mengingatkan bahwa Qur’an bukan hanya warisan masa lalu, melainkan panduan hidup masa kini. Karenanya, warga Islam Maluku di Makassar selalu mengedepankan hal yang abadi, yakni, bersatu dalam iman, bersatu dalam perbedaan, hingga bersatu dalam cahaya Qur’an.
”Inilah warisan yang akan terus mengalir, menyejukkan hati dan menuntun langkah generasi Pattimura muda, selaras dengan ritme alam Maluku yang tak pernah berhenti berirama di manapun orang Islam Maluku itu berada,” tuturnya.

Pernyataan senada dikemukakan Ketua KWIM, Jafrat Sukur. Dia menambahkan, Nuzulul Qur’an tidak semata hanya merayakan turunnya kitab suci, tetapi juga meneguhkan ikatan antar‑generasi, dan antar‑suku, termasuk di dalamnya suku Maluku di Makassar.
Karena itu, jelas Jafrat Sukur, Nuzulul Qur’an tidak hanya memperingati firman Allah yang kini menjadi pedoman hidup ummat Islam di bulan penuh berkah ini, melainkan sekaligus meneguhkan ikatan dalam balutan orang basudara.
“Peringatan Nuzulul Qur’an malam ini, sekaligus menjadi titik temu di mana kerukunan warga Islam Maluku di Makassar ini,” ujarnya
Sebelum menutup sambutannya, Jafrat mengingatkan bahwa, cinta dan kesederhanaan adalah inti dari kerukunan warga Islam Maluku yang sejati. Semua orang pulang dengan hati yang lebih ringan, dengan rasa syukur yang mendalam, serta dengan tekad untuk melanjutkan kebersamaan antar warga Islam Maluku di tanah Sulawesi Selatan ini.
“Saya melihat, kerukunan orang Islam Maluku di Makassar dan sekitarnya seakan jembatan yang menghubungkan tradisi orang Maluku yang taat, yang baik, yang setia, dan selalu mengedepankan hubungan kerahiman begitu dalam,” tutup pria asal Larike ini.
Wakil Ketua KWIM Drs.H.Surur Putuhena didampingi Ketua Panitia Amaliah Ramadhan Salama Kaplale menambahkan, khusus di bulan Ramadhan tahun ini, KWIM melaksanakan terawih bersama sebanyak 4 kali. Terawih ke-4 akan berlangsung di Asrama Putri Maluku di Jalan Tupai, Sabtu, 14 Maret. (din pattisahusiwa/humas KWIM Makassar)




