Minggu, April 12, 2026
Google search engine
BerandaBeritaSekum Ormas ELIT Dapat Hadiah Buku "Langit tak Pernah Offline"

Sekum Ormas ELIT Dapat Hadiah Buku “Langit tak Pernah Offline”

Makassar, Inspirasimakassar,id:

Sekretaris Umum (Sekum) Ormas Elang Timur Indonesia—Ahmad Rusli menerima hadiah dari Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar. Hadiah berupa buku “Esai Religi tentang Islam, Manusia, dan Zaman yang dirangkum dalam buku berjudul ‘Langit tak Pernah Offline” diserahkan di sela sela diskusi “NGOPI”–atau Ngobrol Pintar  yang digagas PRIMA DMI Kota Makassar di Positive Cafe, Jalan Raya Todupolly, Sabtu 11 April 2026.

Saat penyerahan buku setebal 170 halaman yang ditulis HM.Ashar Tamanggong– Ketua BAZNAS Kota Makassar yang menggandeng Bachtiar Adnan Kusuma– tokoh literasi dan perbukuan nasional sebagai editor itu, Ahmad Rusli didampingi Wakil Sekretaris-Faisal Kahar, Wakil Bendahara—Sabda, dan sejumlah kader Ormas yang dipimpin Imran SE, di antaranya Ernawati.

Ahmad Rusli mengaku tidak menyangka jika dirinya mendapat hadiah buku langsung dfari penulisnya.  Ia kemudian berujar, sang penulis buku ‘Langit tak Pernah Offline” memberikan kejutan kecil, namun berkesan.

Menurutnya, membaca judul buku saja telah memberikan kesan filosofis. “Langit tak Pernah Offline—judul ini, seakan menjadi pengingat bahwa, di balik hiruk-pikuk aksi sosial, pengawalan kebijakan, hingga dinamika di jalanan, ada “koneksi” yang jauh lebih tinggi dan tak pernah terputus—yakni hubungan dengan tuhan.

“Menerima buku ini, merupakan bentuk apresiasi terhadap literasi—sebuah pesan bahwa seseorang yang masuk dalam Ormas tidak semata hanya kuat di otot, tetapi harus tajam dalam pikiran dan teduh dalam spiritualitas. Di sinilah bukti, betapa kolaborasi antar lembaga sangat diperlukan,” urainya, sambil tersenyum.

Pria kelahiran Kecamatan Kepulauan Sangkarang Kota Makassar itu menambahkan, buku “Langit tak Pernah Offline” seolah menjadi simpul bahwa, Ormas Elang Timur Makassar akan selalu sampai ke “langit”—sebuah jaringan yang tidak membutuhkan sinyal, tidak punya batasan, dan selalu online bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam kebaikan.

Sebelum menutup pernyataannya, Ahmad Rusli melihat lembaran lembaran awal buku ini tertulis ‘Dialog Tanpa Jeda” yang tertera dalam kata pengantar. Di sini, sang penulis—ATM—mengakui buku ini bukan sebagai tuntunan yang menggurui, melainkan sebagai teman perjalanan bagi siapapun yang  mencari makna di balik rutinitas serba instan.

Seperti diketahui, setidaknya, ada dua hal menarik dari buku yang diterbitkan Yapensi 2026, Jalan Muslim Daeng Tutu GTH B11 Parangtambung tersebut. Langit—luas, tak berujung, selalu terbuka—menjadi simbol kebebasan, harapan, dan juga tanggung jawab. Sementara Offline—dalam dunia yang kini hampir semua hal terhubung—menjadi metafora kerentanan, keheningan, dan ruang berpikir.

Kemudian, mengapa ATM—sapaan akrab Ketua Lembaga Pemerintah Non Struktural beralamat di Jalan Teduh Bersinar No 5 Makassar itu  mengangkat judul yang menantang logika digital “Langit tak Pernah Offline”? Mungkin saja dalam pandangan Da’i Kondang kelahiran Dusun Terang-Terang, Desa Popo, Galesong Selatan, Kabupaten Takalar 17 Pebruari 1973 ini, , Langit— itu maha luas. Tak berujung. Selalu terbuka—menjadi simbol kebebasan, harapan, dan juga tanggung jawab. Offline—dalam dunia yang kini hampir semua hal terhubung—menjadi metafora kerentanan, keheningan, dan ruang untuk berpikir.

Seorang ilmuwan-penulis, Dira Pratama, menulis “Kita hidup di era yang semua data mengalir bebas, namun sejatinya ada satu jaringan yang tidak pernah putus: jaringan matahari, awan, dan bintang. Langit mengingatkan kita bahwa ada koneksi yang tak memerlukan sinyal, hanya kehadiran.”

Langit tak pernah offline, karena selalu menyiarkan tanda‑tanda (ayat) Allah, memberi notifikasi berupa cahaya, hujan, dan ketenangan. Ketika kita menutup mata pada jaringan digital, jangan sampai menutup pula mata pada jaringan spiritual yang tak pernah terputus.

Dalam buku klasik al‑Falak al‑Islamiyyah karya Imam Al‑Bukhari al‑Jawi, di antaranya memaparkan bahwa, para ulama di masa Abbasiyah mempelajari pergerakan bintang untuk menandai waktu sholat. Bagi mereka, langit bukan sekadar latar belakang, melainkan jam digital yang tak membutuhkan baterai.

Ketika malam, Sunan Kalijaga mengajarkan “Malam, bila bintang terbit, itu artinya Allah mengingatkan hamba‑Nya untuk berdoa,”—di sini tidak perlu menunggu notifikasi di ponsel. Langit sudah menyiarkannya sejak dulu kala, terus‑menerus, tanpa jeda.

Meski begitu, tidak semua orang dapat “menangkap” sinyal tersebut. Seperti sinyal Wi‑Fi yang lemah bila dinding beton menghalangi, hati yang keras dan tertutup menolak mengerti bisikan angin, gemetar hujan, atau kilau aurora. Itulah mengapa, Nahdlatul Ulama mengajarkan bahwa kebersihan hati adalah antena terbaik.

Habib Abdullah al‑Ghalib menulis, “Aku meneguk air hujan, bukan sekadar memuaskan dahaga, melainkan menyerap iman yang mengalir dari langit.” Air hujan tidak pernah “offline”; ia selalu mengalir, dan bila hati bersedia, kita pun akan “download” rahmat itu.

Khatib modern di Masjid Besar Surabaya pernah berkata dalam sebuah ceramah livestream: “Saudara‑saudara, jika sinyal Wi‑Fi di rumah Anda putus, tidak apa‑apa. Karena ada satu sinyal yang selalu stabil—cahaya langit. Jangan biarkan mata hati Anda terputus, karena Allah selalu menyiarkan cahaya-Nya.”

Kalimat itu menjadi viral, menembus batas bahasa, menembus jaringan, menegaskan kembali bahwa dalam pandangan kaum sarungan ini, langit adalah jaringan universal yang tidak pernah offline.

Guru Besar Hasyim Asy’ari pernah menyinggung sebuah kebijaksanaan sederhana. “Jika Anda menatap langit pada fajar, Anda sedang menyimak siaran langsung Sang Pencipta.” Bukan sekadar metafora; bagi NU, langit memang merupakan stasiun pemancar yang tidak pernah mengalami “offline”.

Saat dunia modern berdebat tentang kecepatan jaringan, kebijakan privasi, atau “lag” pada streaming, ulama NU mengingatkan kembali, “Ada satu jaringan yang lebih tua dan lebih stabil daripada jaringan 5G mana pun—jaringan yang bersumber dari ‘Al‑Bari’ (Sang Pencipta). Langit, dalam perspektif mereka, terus‑menerus menyiarkan ayat‑ayat Tuhan, mengundang setiap hati yang bersedia menjadi “receiver” yang setia. (din pattisahusiwa/pengurus DPP Ormas Elang Timur Indonesia)

Din Pattisahusiwa
Din Pattisahusiwahttps://inspirasimakassar.id
Wartawan kriminal dan politik harian Pedoman Rakyat Ujungpandang dan sejumlah harian di Kota Daeng Makassar, seperti Ujungpandang Ekspres (grup Fajar) dan Tempo. Saat ini menjadi pemimpin umum, pemimpin perusahaan, dan penanggungjawab majalah Inspirasi dan Website Inspirasimakassar.com. Sarjana pertanian yang juga Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali--kini Universitas Islam Makassar ini menyelesaikan pendidikan SD di tanah kelahirannya Siri Sori Islam Saparua, SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon. Aktif di sejumlah organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Di organisasi kedaerahan, bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuhepaly ini beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan memiliki dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa. Pernah diamanahkan sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar. Kini, Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar.
RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments