Kultum (Kuliah Terserah Antum)
By ATM
Ramadhan selalu dimulai dengan sangat meriah. Masjid penuh. Parkiran sesak. Sandal berserakan seperti ada diskon besar-besaran. Saf shalat rapat sampai ke belakang. Bahkan yang biasanya shalat di rumah tiba-tiba berubah jadi aktivis masjid dadakan.
Hari pertama tarawih, semangatnya luar biasa. Imam baru angkat tangan takbir, jamaah sudah khusyuk. Bacaan imam panjang, masih kuat. Bahkan ada yang pulang sambil berkata dengan penuh semangat, “MasyaAllah, terasa sekali Ramadhannya.”
Hari kedua masih ramai.
Hari ketiga masih padat.
Tapi masuk pekan atau ketiga, mulai muncul fenomena tahunan yang cukup mengkhawatirkan.
Bukan flu.
Bukan demam.
Tapi MUNTABER.
Bukan muntah dan berak seperti di rumah sakit.
Ini jenis penyakit Ramadhan yang hanya menyerang jamaah tarawih.
MUNTABER: Mundur Tanpa Berita.
Awalnya rajin sekali. Saf paling depan. Tak pernah absen. Bahkan kadang datang lebih awal dari imam.
Tapi beberapa hari kemudian… mulai jarang terlihat.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada pesan WhatsApp.
Tidak ada surat permohonan cuti.
Pokoknya… hilang saja.
Masjid sampai bingung. Karpet mungkin bertanya dalam hati, “Yang biasanya duduk di sini ke mana ya?”
Sajadah juga mungkin heran, “Kemarin rajin sekali, sekarang kok menghilang?”
Fenomena ini menarik. Setiap Ramadhan selalu ada. Jamaah seperti mengalami seleksi alam. Awalnya banyak sekali, tapi perlahan-lahan berkurang.
Ramadhan baru berjalan seminggu, tapi saf sudah mulai renggang.
Yang tersisa biasanya tiga kelompok.
Pertama, jamaah yang memang sudah akrab dengan masjid. Bagi mereka, Ramadhan atau tidak, masjid tetap tempat singgah setiap hari.
Kedua, jamaah yang benar-benar mengejar pahala. Mereka sadar Ramadhan ini hanya datang setahun sekali.
Ketiga, jamaah yang rumahnya sangat dekat dengan masjid. Kalau tidak datang, mungkin takut ketahuan tetangga.
Selebihnya… mungkin sedang menjalani muntaber spiritual.
Padahal kalau dipikir-pikir, kita ini sebenarnya kuat.
Kalau nonton pertandingan bola sampai jam dua pagi, kuat.
Kalau main HP satu jam tanpa berhenti, kuat.
Kalau menonton drama sampai tamat satu musim, kuat sekali.
Tapi kalau imam membaca satu halaman Al-Qur’an… mulai gelisah.
Kaki bergerak.
Badan bergoyang.
Jam dilihat berkali-kali.
Seolah-olah waktu berjalan sangat lambat.
Padahal tarawih itu bukan sekadar berdiri lama. Tarawih itu latihan kesabaran. Latihan keikhlasan. Latihan istiqamah.
Ramadhan sebenarnya sedang menguji satu hal yang sederhana: ketahanan hati.
Karena semangat di awal itu mudah. Hampir semua orang bisa melakukannya.
Yang sulit itu bertahan.
Mirip seperti resolusi tahun baru. Di awal tahun semua semangat. Olahraga dimulai. Diet dimulai. Target hidup disusun.
Tapi sebulan kemudian… semuanya kembali seperti biasa.
Ramadhan juga begitu.
Di awal kita seperti atlet ibadah. Tarawih penuh. Tadarus lancar. Sedekah rajin.
Tapi beberapa hari kemudian… semangatnya mulai menurun seperti baterai HP yang tinggal dua persen.
Padahal Ramadhan itu tamu istimewa. Datangnya hanya sekali setahun. Dan tidak ada jaminan kita akan bertemu lagi dengannya.
Bayangkan kalau Ramadhan bisa bicara.
Mungkin dia akan berkata, “Aku datang hanya tiga puluh hari. Kenapa kamu sudah bosan di pekan kedua?”
Kadang kita lupa bahwa kesempatan beribadah itu tidak selalu datang dua kali.
Ada orang yang tahun lalu masih tarawih bersama kita.
Safnya masih sama. Suaranya masih terdengar ketika mengucapkan amin.
Tapi tahun ini… orangnya sudah tidak ada.
Sementara kita masih diberi umur.
Tapi justru kita yang mulai mundur.
Tanpa berita.
Ada yang unik lagi, fenomena ini sering berubah di akhir Ramadhan.
Masjid tiba-tiba penuh lagi. Saf kembali rapat.
Kenapa?
Karena orang mulai mencari malam Lailatul Qadar.
Artinya, di tengah Ramadhan kita sempat mengambil cuti ibadah.
Padahal setiap malam Ramadhan itu berharga.
Bahkan satu rakaat tarawih mungkin menjadi sebab seseorang diampuni dosanya.
Karena di sisi Allah, yang dilihat bukan hanya besar kecilnya amal, tapi kesungguhan hati.
Maka sebenarnya yang perlu kita lawan di bulan Ramadhan ini bukan rasa lapar, bukan rasa haus.
Yang perlu kita lawan adalah rasa malas.
Musuh terbesar ibadah bukan kesibukan.
Musuh terbesar ibadah adalah menunda.
“Besok saja lebih rajin.”
“Nanti saja ke masjid.”
Padahal sering kali “nanti” itu tidak pernah datang.
Ramadhan terus berjalan.
Hari demi hari berlalu.
Tiba-tiba kita sudah berada di sepuluh malam terakhir. Lalu tak terasa takbir Idul Fitri berkumandang.
Dan ketika Ramadhan pergi, barulah kita sadar.
Bahwa ada banyak kesempatan yang sudah lewat.
Karena itu, kalau kita mulai merasa terkena gejala muntaber Ramadhan, obatnya sederhana.
Ingat saja satu hal.
Belum tentu kita bertemu Ramadhan tahun depan.
Kalau ini Ramadhan terakhir kita, tentu kita tidak ingin menjalaninya dengan setengah hati.
Kita ingin mengisinya dengan penuh kesungguhan.
Datang ke masjid.
Berdiri di saf.
Mendengarkan ayat-ayat Allah dibacakan.
Karena bisa jadi dari sekian banyak malam yang kita jalani itu, ada satu malam di mana Allah berkata kepada malaikat-Nya:
“Hamba-Ku ini Aku ampuni.”
Dan saat itu terjadi, semua rasa lelah berdiri di tarawih menjadi sangat kecil dibandingkan dengan nikmat ampunan Allah.
Maka semoga Ramadhan kali ini kita tidak termasuk jamaah muntaber.
Bukan yang mundur tanpa berita.
Tapi yang bertahan sampai akhir.
Sampai malam takbir berkumandang.
Sampai Ramadhan pergi dengan membawa satu kabar baik:
Bahwa kita termasuk orang-orang yang mendapatkan ampunan.
Wallahu A’lam. (ATM–Ashar Tamanggong/Ketua BAZNAS Kota Makassar).




