Kamis, Januari 29, 2026
Google search engine
BerandaBeritaCitizen ReporterMenjemput Pagi di Makassar dengan Kue Janda

Menjemput Pagi di Makassar dengan Kue Janda

Kue Janda dijajakkan bersama dengan jenis kue khas tradisional lainnya di Makassar. (Foto: dok. Dwi Nur Fitriani
Kue Janda dijajakan bersama dengan jenis kue khas tradisional lainnya di Makassar. (Foto: dok. Dwi Nur Fitriani)

Gowa – Menjelang pagi di Kota Metrpolitan Makassar dan sekitarnya, para penjual kue-kue di pinggir jalan dan sudut-sudut kota mulai ramai dengan antrian warga yang akan membeli berbagai jenis dan rasa kue khas dari Makasssar itu.

Kue itu menjadi penganan menjemput pagi sambil mengeruput teh atau kopi panas sambil mempersiapkan segala peralatan untukĀ  menuju ke tempat kerja Ā menjalani aktivitas rutin masing-masing.

Di antara sekian banyak jenis kue itu, Ā salah satu di antaranya yang banyak menarik orang untuk menikmati karena namanya. Orang Makassar memberinya nama kue janda. Jenis kue ini terbuat dari pisang dibalut dengan parutan ubi kayu, kemudian dikukus dan disajikan dengan taburan parutan kelapa. Selain diberi nama kue janda, ada juga orang Makassar menyebut kue janda itu dengan sebutanĀ  kue songkolo bandang.

Kue janda ini merupakan salah satu penganan ringan favorit sering di buru olehĀ  masyarakat Makassar saat bulan puasa untuk menjadi hidangan berbuka puasa ataupun di bulan biasa untuk menjadi sarapan pagi.

Salah seorang penjual kue-kue, Suri di temui di Makassar, Rabu 16 Maret 2016 lalu mengatakan, kalau pagi banyak yang mencari kue janda ini ,tapi tidakĀ  begitu banyak yang menjual. “Saya pun tidak sering menjual kue jenis ini, yang banyak itu jenis kue panada, donat, risoles, atau onde-onde,ā€ katanya

Kue janda itu seharga Rp. 1000,- Ā per biji Ā tertata manis di etalase kaca para penjual kue saat pagi. Kue ini dipajang bersama Ā kue kue tradisional lainnya seperti kue dadar, burangasa, onde-onde panyu, atau roti goreng

Warga Makassar mempunyai kebiasaan membeli kue atau penganan ringan di pagi hari, maka dari itu para penjual kue harus sudah menyajikan jualannya di awal pagi. ā€œSaya biasa jam empat pagi sudah bangun, menggoreng, memasak Ā dan membungkus kue, kalau malam sebelum tidur saya siapkan semua dulu. Paginya baru di goreng atau di kukus. Jam enam saya sudah keluar rumah.ā€, ungkap Suri

Kue janda ini merupakan kue favorit, menurut Suri, Ā pernah ada ibu-ibu Ā memborong banyak kue jandanya, karena sudah lama mencari kue itu tapi baru menemukannya, katanya.

(Laporan Dwi Nur Fitriani, Mahasiswa KPI FDK UIN Alauddin Makassa, Samata Gowa)

Din Pattisahusiwa
Din Pattisahusiwahttps://inspirasimakassar.id
Wartawan kriminal dan politik harian Pedoman Rakyat Ujungpandang dan sejumlah harian di Kota Daeng Makassar, seperti Ujungpandang Ekspres (grup Fajar) dan Tempo. Saat ini menjadi pemimpin umum, pemimpin perusahaan, dan penanggungjawab majalah Inspirasi dan Website Inspirasimakassar.com. Sarjana pertanian yang juga Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali--kini Universitas Islam Makassar ini menyelesaikan pendidikan SD di tanah kelahirannya Siri Sori Islam Saparua, SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon. Aktif di sejumlah organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Di organisasi kedaerahan, bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuhepaly ini beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan memiliki dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa. Pernah diamanahkan sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar. Kini, Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar.
RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments