Kepulauan Selayar, Inspirasimakassar.com:

Membangun Kabupaten Kepulauan Selayar yang kaya dengan potensi sumber daya komoditi seperti kelapa tidak bisa meniru-niru daerah lain. Misalnya kabupaten tetangga Bulukumba, Bantaeng dan daerah subur lainnya. Untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat yang notabene penduduknya sebagai petani kopra mestinya harus menggunakan konsep teknologi 3 in 1 atau 4 in 1.
Artinya komoditi kopra yang diangkat maka komoditi lainnya juga akan ikut naik. Seperti pala, cengkeh, mentek dan kemiri. Dan konsep ini sangat cocok bagi daerah yang income pendapatannya rendah seperti Selayar. Hanya saja menurut ahli energi ini, beliau tidak bisa memberikan ide dan terobosan tanpa didasari dengan sebuah perjanjian yang ditanda tangani diatas kertas bermaterai Rp 6.000.
Ada sejumlah negara yang menerapkan gagasan ini. Diantaranya Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan Singapura. Sedangkan di Indonesia ide ini sudah diimplementasikan di salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Ternyata berhasil. Cuma kadang Pemerintah Daerah (Pemda) ditawari ide ini tidak diterima. Dan itu wajar sebab mereka belum faham.
Karena memang konsep dan ide atau terobosan ini menggunakan logika tingkat tinggi. Hasilnya bisa menjadi alat kosmetik, makanan dan lain. Sehingga harga kopra yang tadinya hanya bisa dijual dengan harga Rp 3.300,- perkilogramnya akan setara dengan menggunakan teknologi ini dan bisa mencetak uang Rp 10.000 hingga Rp 12.000 perkilogramnya. Dan ini setara pula dengan 4 sampai 5 biji kelapa.
Potensi kelapa di Selayar cukup menjanjikan yang mencapai 2.450.734 pohon yang menghasilkan 25.005,63 ton pertahun yang sudah dikaji sejak lama. Termasuk sektor-sektor komoditi lainnya. Anjloknya harga yang sempat membuat panik para petani kopra di Selayar dan menjadi polemik hingga masyarakat menyalahkan bupati.
Mestinya ini tidak perlu terjadi. Saya tidak setuju kalau sampai membawa-bawa nama Bupati. Sebab harga ini memang mengglobal diseluruh Indonesia. Itu bukan solusi. Dan menurutnya, HM Basli Ali sebagai pemegang kendali di Bumi Tanadoang sama sekali tidak bisa dipersalahkan. “Yang perlu diketahui salah satu penyebabnya karena permainan tengkulak. Olehnya itu, untuk mengsiasati kelapa agar menghasilkan uang yang lebih tinggi mesti menerapkan konsep ini.” tambahnya.
Apalagi komoditi pendukung di Selayar cukup banyak. Dan ini bisa dikembangkan dengan membangkitkan teknologi. Dan saya yakin Selayar tidak akan kerepotan untuk mencari bahan bakunya. Dan dengan motode ini pula akan dapat mengangkat pendapatan dan kesejahteraan masyarakat yang secara otomatis pula Pendapatan Asli Daerah (PAD) akan ikut meningkat.
Selayar memiliki bahan baku yang cukup dan bisa mendukung berdirinya sebuah industri kelapa didaerah ini. Bahkan kalau perlu kita datangkan investor dari Jepang sebagai salah satu negara yang menerapkan konsep dan ide ini. Dengan kehadiran industri dan pabrik maka kopra tidak akan lagi mesti dijual ke Makassar dan Surabaya misalnya.
Rakyat Selayar khususnya petani kopra yang totalnya mencapai 18.506 Kepala Keluarga (KK) tidak akan lagi berteriak karena pendapatannya akan meningkat tajam. Sehingga kesejahteraan masyarakat akan terwujud sejalan dengan berdirinya industri ini.
“Dan saya siap melatih orang Selayar. Saya memiliki niat tulus dan ikhlas untuk memberikan sumbang pemikiriran sebagai putra daerah Selayar, meskipun sudah lama dirantau. Saya hanya memerlukan sebuah komitmen kuat dan keseriusan pihak Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar. Bupati serius ya, kita dill.” kata Prof Nasir optimis via selulernya dari Jakarta sore tadi. (M. Daeng Siudjung Nyulle)