
Makassar, Inspirasimakassar.com :
Komunitas masyarakat Maluku yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Kei , Maluku Tenggara di Makassar dan sekitarnya akan menggelar acara pisah sambut tahun 2019-2020. Kegiatan yang direncanakan berlangsung di Rumah Makan Makassar Kuliner, Jalan Lanto Dg Pasewang Makassar itu, pukul 18.00 Wita, Sabtu, 11 Januari 2020.
Ketua Panitia, James Gamganora didampingi Sekretaris Panitia, Hendrik Moryaan, Kamis, 9 Januari 2020 mengemukakan, acara pisah sambut yang mereka gelar, sebagai tanda kesyukuran dan terima kasih kepada tuhan, karena seluruh masyarakat Kei di Makassar dan Sulawesi Selatan umumnya telah melewatinya dengan baik.
Selain berpisah dengan tahun 2019, demikian James Gamganora, kini seluruh masyarakat Kei menyambut tahun baru 2020 dengan senang hati pula. Semoga di tahun 2020 ini, seluruh masyarakat Kei di Makassar dan seluruh masyarakat Indonesia dapat menjalaninya dengan suka cita, sekaligus mengisinya dengan karya-karya besar, demi kemaslahatan dan kesejahteraan.
“Semoga tahun 2020 ini, suluruh masyarakat, khususnya masyarakat Kei dapat menjalaninya dengan baik. Dan semoga tahun 2020 ini pula, kita semua diberi kesehatan dan kesejahteraan,” harapnya.

Sementara itu, Hendrik Moryaan menambahkan, pada acara pisah sambut tersebut, selain makan malam dan hiburan, juga laporan ketua panitia, dan sambutan-sambutan masing-masing dari Ketua Kerukunan Keluarga Kei Makassar (Herman Joseph Refo), Badan Penasehat Keluarga Kei Makassar (Kombes Pol Robert Haryanto Watratan,SH,S.Sos, MH), serta Ketua Kerukunan Keluarga Makassar (Prof.Dr.dr.Atja Razak Thaha,M.Sc).
“Pada acara pisah sambut ini juga nantinya diisi dengan doa oleh tiga agama yakni Protestan, Katolik dan Islam. Tidak ketinggalan basudara dari Majelis Taklim Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Makassar akan membawakan lagu berirama qasidah,” ujar Hendrik Moryaan, seraya menambahkan, jumlah warga Kei di Kota Makassar dan sekitarnya sekitar 100 kepala keluarga, belum termasuk mahasiswa.
Seperti diketahui, Kepulauan Kei adalah gugusan pulau di kawasan tenggara Provinsi Maluku. Penduduk setempat menyebut kepulauan ini Nuhu Evav (“Kepulauan Evav”) atau Tanat Evav (“Negeri Evav”), tetapi dikenal dengan nama Kei atau Kai oleh penduduk dari pulau-pulau tetangga. “Kai” sebenarnya adalah sebutan dari zaman kolonial Hindia Belanda, dan masih digunakan dalam buku-buku yang ditulis berdasarkan sumber-sumber lama. Kepulauan ini terletak di selatan jazirah Kepala Burung Irian Jaya, di sebelah barat Kepulauan Aru, dan di timur laut Kepulauan Tanimbar.
Kepulauan Kei terdiri atas sejumlah pulau, di antaranya Kei Besar atau Nuhu Yuut atau Nusteen, Kei Kecil atau Nuhu Roa atau Nusyanat, Tanimbar Kei atau Tnebar Evav, Kei Dulah atau Du Dulah Laut atau Du Roa, Kuur, Taam, serta Tayandu atau Tahayad. Selain itu masih terdapat sejumlah pulau kecil tak berpenghuni. Total luas area daratan Kepulauan Kei adalah 1438 km² (555 mil2). Kei Besar bergunung dan berhutan lebat. Kei Kecil datar dan memiliki populasi terbanyak. Pulau ini sebenarnya merupakan sebuah pulau koral yang terangkat ke permukaan laut. Kei termasyhur berkat keindahan pantai-pantainya, misalnya pantai Pasir Panjang.
Kepulauan Kei merupakan bagian dari daerah Wallacea, kumpulan pulau-pulau Indonesia yang dipisahkan oleh laut dalam dari lempeng Benua Asia maupun Australia, dan tidak pernah tersambung dengan kedua benua tersebut. Sebab itu, hanya terdapat sedikit jenis mamalia lokal di Kepulauan ini. (din pattisahusiwa)