
Makassar, Inspirasimakassar.com:
Barang siapa yang mempunyai kesalahan terhadap saudaranya yang lain, baik kehormatan atau lainnya maka mintalah maaf. Salah satunya melalui Halal bi Halal. Yang dipentingkan dalam Halal bi Halal adalah memperkuat rasa persaudaraan. Demikian, Sekretaris umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), HM. Kholid Syeirazi,M.Si pada Halal bi Halal virtual Pengurus Cabang ISNU Kota Makassar.
Menurut pandangan Kholid Syeirazi, persaudaraan dalam rumusan Nahdlatul Ulama (NU) bukan menyangkut saudara seagama saja, melainkan saudara sebangsa, termasuk saudara dalam kemanusiaan. Seperti yang dikonsepsikan oleh KH KH Achmad Shiddiq tentang tiga ukhuwwah. Yakni, Islamiyyah (persaudaraan antara sesama pemeluk Islam), Insaniyyah (persaudaraan antarsesama manusia), dan Wathaniyyah (persaudaraan antarsesama anak bangsa). Tentunya, ketiganya bersumber pada ukhuwwah Islamiyyah.
Di sela-sela Halal bi Halal yang dipandu Mardiana Rusli,SE,M.I.Kom dan juga dihadiri Sekretaris PW ISNU Sulsel, Dr.Mulyadi,M.Pd, Ketua ISNU Kota Makassar, Dr.Ir.Hj.Musdalifah Mahmud,. M.Si dan pengurus ISNU lainnya, pada Senin, 1 Juni 2020 juga diselingi sumbangan pemikiran empat Guru Besar tentang peran perguruan tinggi di tengah tengah penyebaran virus Covid-19. Yakni, Prof. Hamdan Juhannis (Rektor UIN Alauddin), Prof. Dr.Jasruddin,MSi (Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2Dikti) Wilayah IX Sulawesi, Prof. Karta Jayadi (PR II UNM), Prof.Dr.Muhammad Jufri, S.Psi.M.Si (Dekan Fakultas Psikologi UNM), serta Prof. Asnawi.
Prof. Hamdan Juhannis mengaku sependapat dengan Kholid Syeirazi. Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar ini menambahkan, pendekatan dan penguatan perlu dikuatkan, utamanya di tengah tengah penyebaran Covid-19 yang mengerikan dunia saat ini.“Covid inilah benar-benar menampar sisi kemanusiaan,” tambahnya.
Sekalipun demikian, Prof. Hamdan Juhannis melihat, pandemik sebenarnya sesuatu yang rutin, dan selalu menerpa setiap peradaban manusia. Jika ditelusuri, maka mulai dari zaman rasulullah sudah ada pandemik itu.
Bahkan, Ibnu Batutah—cendekiawan Maroko yang pernah berkelana ke berbagai pelosok dunia pada abad pertengahan—menggambarkan, betapa dashatnya kematian akibat pendemik. Dan, bahkan ada yang mensyinyalir, setiap 100 tahun pasti ada pandemik besar. Kalau itu benar, maka generasi saat ini bisa saja secara kebetulan mendapat giliran.
Agar terhindar dari pendemik, manusia tidak boleh melupakan sejarah dan perangkat kebudayaan peradaban masa lalu. Yang paling sederhana adalah, cuci tangan, tradisi menjaga jarak, hingga tradisi memakai masker.
“Karena, setiap saat dan setiap hari bakteri ada sekitar manusia. Kapan kita bernapas, setiap saat kita batuk, dan lainnya. Kita juga harus memperhatikan tanda-tanda dan penomena alam. Kita lemah dalam membaca ayat-ayat tuhan. Dan kita tidak siap, sehingga efeknya seperti yang kita rasakan,” jelas rektor negeri termuda ini, seraya menambahkan, dirinya malah bersyukur. Pasalnya, lantaran adanya pendemi menjadi momentum memperbaiki diri. Selain tidak pernah membayangkan kelak menjadi imam idul fitri di rumah bersama keluarga. Inilah sisi positifnya.
Prof.Dr.Jasruddin,MSi mengharapkan, ISNU mengambil peran dalam persoalan bangsa saat ini, khususnya di bidang pendidikan. Karenanya, pertemuan lewat Halal bi Halal virtual ini menjadi momen untuk menyusun langkah atau strategi apa yang harus dilakukan untuk membantu pemerintah.

“Di masa pendemi covid-19 ini, kita jangan dulu bertanya, apa yang telah dilaksankaan pemerintah terhadap pendidikan di Indoensia, tetapi mending kita bertanya apa yang akan kita lakukan membantu pemerintah menangani pendidikan,” ujar Prof Jas—sapaan akrab Prof.Dr.Jasruddin,MSi.
Khususnya di Perguruan Tinggi Swasta (PTS), lembaga yang dipimpinnya ((L2Dikti Wilayah IX Sulawesi) akan terus mendorong agar para dosen terus bergiat, menyelesaikan berbagai jenjang akademik. Termasuk meraih gelar Professor dan peningkatan akreditasi kampus.
Dalam pandangan Prof Muhammad Jufri, belajar dari covid-19, maka ada banyak hal yang perlu ditarik manfaat atau hikmah, sekaligus dijadikan pembelajaran. Di satu sisi, covid adalah tantangan, tetapi si sisi lain, covid sekaligus dapat menimbulkan, atau mendorong lahirnya kreativitas-kreativitas baru. Tentunya, kreativitas ini harus terus diberi ruang untuk berkembang. Mengapa? Ya, karena ini termasuk dari salah satu kecakapan abad 21 yang sudah harus disiapkan, selain kecakapan lain.
Khususnya bidang pendidikan, jelas Muhammad Jufri, ternyata dalam kejadian covid-19 harus diakui, belum seluruhnya dari seluruh lembaga pendidikan yang ada dari semua jenjang, kecuali di perguruan tinggi yang sejak dari awal telah melakukan format perubahan.
Menyikapi era distraksi—memusatkan perhatian menjauhi situasi yang tidak diinginkan dengan tujuan mengalihkan perhatian untuk mengurangi rasa tidak nyaman terhadap suatu objek–, maka sekalipun belum seluruhnya menggunakan system online, tetapi memadukan antara konvensional dan online. Sebagian besar PT telah melakukan upaya dan inovasi dengan model-model pembelajaran yang lebih matang.
Sebaliknya, jika dibandingkan jenjang pendidikan level menengah ke bawah, utamanya pendidikan dasar, dirasakan kesulitan yang cukup. Karena, selain guru yang belum seluruhnya siap dengan kondisi saat ini, juga orang tua yang diharapkan mendampingi kegiatan belajar anak di rumah, tidak semuanya familiar ber- IT.

Karena itu, semua harus dipotret, agar ke depan, pendidikan kita yang diyakini sebagai tangggungjawab bersama, baik pemerintah, pengelola pendidikan, serta masyarakat atau orang tua benar-benar diwujudkan.
“Sangat kelihatan, nampaknya, orang tua sebenarnya kaget dengan kondisi, ketika tiba tiba anak-anak harus belajar di rumah. Tidak semua orang tua siap teknologi, juga tidak memiliki kemampuan yang sama melakukan proses pendampingan,” urainya.
Menurutnya, orang tua yang dengan kondisi menyebarnya pendemi, dapat menikmati, mendampingi putra putrinya belajar dengan baik. Tetapi, banyak orang tua yang mengeluh, dan bahkan merasa terbebani dengan kondisi ini. Karena selain dia sendiri harus mengerjakan tugas-tugasnya di kantor dibawah ke rumah, juga harus juga mendampingi anak-anaknya.
Jadi, Prof Muhammad Jufri, pelajaran besar yang diambil ke depan adalah, kurikulum pembelajaran harus benar-benar mampu mengakomudir tren perkembangan abad 21, era industry 0.4. Dimana, didalamnya mencoba mengakrabkan antara manusia dan teknologi.
“Dengan kejadian ini, tentu bukan lagi sekadar pembicaraan belaka, tetapi itu bisa diwujdukan bahwa, untuk kondisi sekarang, manusia dan teknologi itu menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan,” jelasnya.
Karena itu, ia mengharapkan, kurikulum pendidikan ke depan, harus memperhatikan minimal lima C. Yakni, character, critical thinking, creativative, collaboration , dan communication. Keterampilan-keterampilan ini, bisa diintegrasikan dan diaplikasikan ke kurikulum pembelajaran. Tujuannya, agar ke depan anak anak didik memiliki karakter yang unggul, karakter yang tangguh, sekaligus memiliki resiliensi yang kuat, yakni, kemampuan beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit.
“Sehingga, ketika kita diperhadapkan dengan konidisi seperti saat ini, kita tidak perlu kaget. Kita siap untuk beradaptasi, bisa melakukan penyesuaian diri dengan cepat terhadap situasi-situasi baru yang kita hadapi. Mereka tidak gampang panik, lebih ulet menghadapi situasi apapun, muncul jiwa kompetitif, dan yang lebih penting harus merasakan bahwa hidup ini tidak cukup dengan sendirian, melainkan harus bisa membangun kolaborasi, dilatih untuk bisa bersinergi dengan pihak lain, atau manusia lain di luar dirinya,” tutup Prof Muhammad Jufri.

Sementara itu, Prof. Dr.Karta Jayadi mengakui, saat ini, masyarakat tiba tiba diperhadapkan dengan kenyataan yang sebelumnya tidak terduga. Sesungguhnya kita mengahapi situasi kehidupan yang mau tidak mau memaksa kita untuk mengambil posisi untuk tetap melanjutkan kehidupan. Bagaimana adaptasi ekonomi, dan bagaimana adaptasi sosial yang semua serba berubah.
Baginya, covid-19 menantang kehidupan. Bahwa ada kehidupan lain yang meksipun kita tidak bertemu, baik antara guru dengan siswa, antara dosen dengan mahasiswa, dosen dengan dosen, antarkolega, namun tetap bisa berjalan.Tapi intinya adalah, selalu merasa bersyukur dengan apa yang diberikan tuhan.
Menjawab pertanyaan peserta dari daerah soal SPP di masa pendemi, Wakil Rektor II Universitas Negeri Makassar (UNM) ini mengakui, jauh sebelum covid, sudah ada subsidi silang. “Yang namanya SPP itu tergantung kemampuan orang tua,” ujarnya.
Seperti diketahui, ISNU yang dideklarasikan, 19 November 1999 di Surabaya, dan resmi dikukuhkan sebagai Badan Otonom (Banom) NU tahun 2010 pada Muktamar NU ke- 32 di Makassar. Kepengurusan tingkat wilayah Sulawesi Setatan, dipimpin Prof.Dr.H.Husain Syam,M.TP. Khusus Kepengurusan INSU Cabang Makassar diketuai Dr.Ir.Musdalifa Mahmud,M.Si. Bersama akademisi Universitas Islam Makassar (UIM) ini terdapat 14 wakil ketua.
Sekretaris dipercayakan kepada Dr.Jamaluddin Iskandar,M.Pd bersama lima wakil sekretaris, Bendahara– H.Nasran Mone,S.Ag,M.Si bersama tiga wakil bendahara. ISNU Makassar juga dilengkapi seksi organisasi dan studi pendidikan, seksi media dan humas, seksi ekonomi, seksi hukum, serta kesekretariatan data dan informasi. (din pattisahusiwa-humas ISNU Makassar)




