
Anregurutta KH (DR). H.C,H.M Sanusi Baco,Lc, lebih dari sekadar pemimpin agama. Almarhum adalah sosok kharismatik yang mendapat rasa hormat dan kasih sayang dari berbagai kalangan.
KH Sanusi Baco, Lc bukan sekadar ulama, tetapi perwujudan sejati nilai-nilai Islam. Warisannya menjadi mercusuar, yang menuntun ummat menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang pesan Islam, tentang perdamaian, tentang keadilan, dan tentang kasih sayang.
Pengetahuannya akan hukum Islam, dipadu sikapnya yang hangat, serta sifatnya yang mudah didekati, membuatnya menjadi penasihat dan pembimbing spiritual andal.
Nama KH.Sanusi Baco akan selalu dikenal, entah sampai kapan. Itu lantaran, sosoknya identik dengan kebijaksanaan, dedikasi, dan keilmuan Islamnya bukan saja mendalam, melainkan terukir dalam hati banyak orang, baik di tanah kelahirannya Maros, di Makassar, di Sulawesi Selatan, dan banyak daerah dan kota di tanah air.
Kepergiannya menghadap sang pencipta, pada, 15 Mei 2021 silam, menandai kehilangan yang besar. Almarhum, meninggalkan warisan yang terus menginspirasi generasi kini. Juga, komitmennya yang teguh terhadap pendidikan, dedikasinya terhadap keadilan sosial, dan pemahamannya yang mendalam tentang prinsip-prinsip Islam menjadi cahaya penuntun bagi generasi mendatang.
Hari ini, Selasa, 27 Mei 2025, tepat pukul 09.00 Wita, keluarga besarnya menggelar Haul ke-4 di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Soreang Maros. Haul—atau peringatan hari kematian Anregurutta KH.Sanusi Baco ini merupakan saat yang tepat merenungkan kehidupan, dan kontribusi tokoh berpengaruh kelahiran 3 April 1937 ini.
Selama acara Haul, jamaah berkumpul untuk membaca doa, membaca Al-Quran, dzikir, hingga ceramah agama, berbagi kisah tentang kehidupan dan ajaran sang kiyai. Jamaah juga diajak mengingat ajarannya dan berusaha untuk meniru teladannya, bekerja menuju masyarakat yang lebih adil, penuh kasih sayang, dan tercerahkan. Tujuan utamanya adalah mendoakan almarhum agar mendapatkan rahmat Allah SWT dan melanjutkan warisan kebaikan yang telah ditinggalkannya.
Haul kali ini juga bukan sekadar acara duka, melainkan peringatan atas hidupnya, ajarannya, dan dampaknya yang abadi. Ini adalah waktu untuk refleksi, kenangan, dan pembaruan, saat jamaah berkumpul untuk menghormati kenangannya dan menegaskan kembali komitmen mereka terhadap nilai-nilai yang diperjuangkan Almarhum.
Acara tahunan Haul KH Sanusi Baco, Lc lebih dari sekadar peringatan, melainkan sekaligus kesempatan untuk merenungkan kehidupan dan ajarannya serta mengambil inspirasi dari teladannya. Sebab, haul itu sendiri adalah, sebuah tradisi peringatan wafatnya seorang tokoh yang dihormati, khususnya dalam konteks Islam di Indonesia, memiliki kekayaan makna yang mendalam.
Dalam Islam, haul diperingati sebagai momen refleksi dan penghormatan kepada almarhum. Lebih dari sekedar mengenang, haul menjadi ajang untuk meneladani akhlak mulia, ilmu yang bermanfaat, dan perjuangan yang telah dilakukan.
Peringatan tahunan KH Sanusi Baco, Lc. menjadi pengingat penting akan pengaruh mendalam ulama karismatik ini terhadap lanskap Islam di Sulawesi Selatan. Kehidupan, keilmuannya, dan dedikasinya yang tak tergoyahkan untuk memajukan masyarakat meninggalkan jejak yang tak terhapuskan, memperkuat posisinya sebagai tokoh yang dihormati dan berpengaruh.
Dengan menjunjung tinggi nilai-nilainya dan meniru dedikasinya, jamaah dapat menghormati kenangannya dan berkontribusi untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan penuh kasih sayang, yang dipandu oleh prinsip-prinsip Islam yang abadi.
Apalagi, semasa hidupnya, Anregurutta KH.Sanusi Baco, memainkan peran penting dalam membentuk lanskap keagamaan di Sulawesi Selatan. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan, mendirikan dan membina sekolah Islam (pesantren) dan lembaga pendidikan lainnya. Lembaga-lembaga ini berfungsi sebagai pusat penting untuk pembelajaran Islam, pengembangan moral, dan pemberdayaan masyarakat.
Komitmennya terhadap pendidikan sangat penting. Ia mendirikan dan mendukung banyak sekolah dan lembaga Islam, menyadari bahwa pendidikan adalah kunci untuk memberdayakan individu dan memperkuat masyarakat. Hal ini menggarisbawahi penekanan Islam pada pencarian ilmu ( ‘ilm ) sebagai kewajiban mendasar.
Pengaruhnya di dunia pendidikan meluas hingga ke luar kelas. Almarhum pernah aktif terlibat dalam isu-isu sosial, memperjuangkan keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan kaum terpinggirkan. Ia menggunakan platformnya untuk mempromosikan dialog dan pemahaman antaragama, menumbuhkan rasa persatuan dan harmoni di antara berbagai komunitas agama. Komitmennya terhadap keadilan sosial dan pendekatannya yang inklusif membuatnya menjadi sosok yang disegani.
Malah, kepemimpinan KH Sanusi Baco melampaui batas-batas pesantren. Ia adalah seorang pemimpin masyarakat yang disegani, sering diminta untuk menengahi perselisihan dan memberikan bimbingan tentang masalah-masalah keimanan dan keadilan sosial. Hal ini mencerminkan cita-cita Islam tentang seorang pemimpin yang berpengetahuan luas dan penyayang, yang meniru model Nabi yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi semua makhluk).
KH Sanusi Baco memperjuangkan pemahaman Islam yang moderat dan inklusif. Ia secara konsisten menekankan pentingnya toleransi ( tasamuh ) dan rasa hormat terhadap keberagaman. Ia percaya bahwa Islam sejati menyerukan hidup berdampingan secara damai dan mengejar titik temu.
Bahkan dengan mereka yang memiliki keyakinan berbeda. Pendekatan ini sangat selaras dengan ayat Al-Quran yang mendorong dialog dan pemahaman: “Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” (Al-Quran 16:125)
KH. Sanusi Baco, Lc memiliki perpaduan unik antara keilmuan Islam tradisional dan kemauan untuk terlibat dengan tantangan modern. Ia menguasai disiplin ilmu Islam klasik seperti Fiqih (Yurisprudensi Islam), Tafsir (Penafsiran Al-Quran), dan Hadits (Hadis Nabi), yang membuatnya sangat dihormati rekan-rekannya dan murid-muridnya.
Pendidikannya, ditambah dengan kefasihannya dalam bahasa Arab (sebagaimana dibuktikan dengan gelar “Lc.” Dalam dunia pendidikan, LC merupakan gelar sarjana strata 1 (S1) yang umum diberikan oleh universitas di beberapa negara Timur Tengah, termasuk di Cairo Mesir. Gelar LC ini, diperoleh melalui pembelajaran saksama, di Cairo, Mesir memungkinkannya untuk mendalami sumber-sumber asli ajaran Islam, yang kemudian ia terjemahkan dan kontekstualisasikan dengan terampil bagi ummat Islam, sehingga meski konsep-konsep yang rumit, namun dapat dipahami dengan baik.
Ia menyadari perlunya menyesuaikan prinsip-prinsip Islam dengan realitas kehidupan kontemporer. Ia secara aktif membahas isu-isu sosial, mempromosikan pendidikan, memerangi kemiskinan, dan mengadvokasi kerukunan antar agama. Kemampuan beradaptasi ini menyoroti prinsip inti Islam yaitu ijtihad – penalaran dan interpretasi independen terhadap teks-teks Islam untuk menghadapi situasi baru.
Kefasihannya berbahasa Arab, yang diperoleh melalui pembelajaran yang saksama, di Cairo, Mesir memungkinkannya untuk mendalami sumber-sumber asli ajaran Islam, yang kemudian ia terjemahkan dan kontekstualisasikan dengan terampil bagi ummat Islam, sehingga meski konsep-konsep yang rumit, namun dapat dipahami dengan baik.
Seperti diketahui, KH.Sanusi Baco meninggal pada, Sabtu, 15 Mei 2021 malam, atau tepat pukul 20.00 Wita. Beliau meninggal di usia 83 tahun. Beliau dilahirkan di Maros 4 April 1938. Anak kedua dari enam bersaudara dari seorang ayah yang bekerja sebagai mandor bernama Baco.
Di masa remajanya, KH Sanusi Baco belajar pada beberapa orang guru sebelum memutuskan belajar di Pondok Pesantren Darul Dakwah wal Irsyad (DDI) Mangkoso Kabupaten Baru yang kemudian berlangsung 8 tahun. Dari Mangkoso, Anre Gurutta masuk ke Madrasah Aliyah pada tahun 1958.
Usai belajar di Aliyah, almarhum memutuskan masuk Makassar dan mengajar di beberapa tempat, sambil mengikuti kuliah di Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan meraih gelar sarjana muda (B.A.). Selain termasuk salah seorang pendakwah, almarhum termasuk salah seorang pendiri Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Sulsel.
KH.Sanusi Baco mendapat beasiswa dari Pemerintah melanjutkan pendidikan ke Universitas Al Azhar Mesir. Pada saat itu, almarhum memimpin Pondok Pesantren Darul Ulum salah satu ponpes milik Nahdatul Ulama yang ada di Maros. Saat menuju Mesir menggunakan kapal laut, beliau bertemu Abdurrahman Wahid, yang kelak menjadi Presiden IV Republik Indonesia dan menjadi teman baiknya.
Sekembali dari Mesir, KH.Sanusi Baco mengabdikan ilmu di kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, serta Sekolah Tinggi Ilmu Agama (STIA) AL Ghazali Makassar (kini Universitas Islam Makassar). Termausk mengajar di Fakultas Syariah IAIN Alauddin, perguruan tinggi yang menganugerahinya Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum Islam setelah berganti nama menjadi UIN Alauddin. Di tengah usianya yang sudah uzur, 78 tahun, Anre Gurutta aktif di ormas NU Sulawesi Selatan.
Dan, saya ingat betul ketika menjadi mahasiswanya di Sekolah Tinggi Ilm Pertanian (STIP) Al-Gazali, tahun 1986 lalu. Beliau adalah dosen agama yang begitu femiliar. Begitu pula disaat mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon saat melakukan kunjungan ke STIP Al-Gazali—kini Universitas Islam Makassar (UIM) awal tahun 1990-an. Saat menyampaikan materi agama, mahasiswa Universitas Darussalam Ambon terkagum kagum. (din pattisahusiwa)