Ketua DMI Kota Makassar, Drs.H.M.Yunus DJ (batik) bersama Ketua PRIMA DMI Makassar
Makassar, Inspirasimakassar,id:
Pemimpin Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) ke depan harus bisa mengubah wajah zakat dari sekadar bantuan konsumtif, menjadi modal pemberdayaan yang memerdekakan mustahik.
Lembaga pemerintah nonstruktural ini membutuhkan pemimpin yang berani mendobrak kemapanan, mengadopsi teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai luhur. Dan, tentunya yang paling terpenting adalah, membawa BAZNAS menjadi lembaga yang tidak hanya sekadar “ada”, tetapi menjadi motor penggerak kebangkitan umat di era berkemajuan saat ini.
Peran penting BAZNAS inilah, maka Perhimpunan Remaja Masjid Dewan Masjid Indonesia (PRIMA DMI) Kota Makassar menggagas diskusi “Mencari Pemimpin Baru BAZNAS Makassar” yang digelar PRIMA DMI Kota Makassar, di Warkop Kualiti Coffe, Jalan Tudopoly Raya Makassar, Sabtu, 11 April 2026.
Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Makassar, Drs.HM.Yunus HJ.M,Si di sela sela membuka diskusi yang dikemas dalam balutan “NGOPI”–atau Ngobrol Pintar yang digagas PRIMA DMI Kota Makassar patut diapresiasi.
Di bagian lain, HM.Yunus HJ mengemukakan, “NGOPI” yang mendudukan tiga pemateri masing masing, Kepala Bagian Kesra Kota Makassar–H.Muh. Syarief, Ketua BAZNAS Kota Makassar– HM.Ashar Tamanggong, dan Ketua Rumah Zakat Sulsel–Amir, ST, MM mengemukakan, BAZNAS Kota Makassar layak mendapatkan pemimpin zakat yang tidak hanya ahli dalam konsep, tetapi juga tangkas di lapangan, dan jujur dalam setiap sen yang mengalir.
Sebab pada akhirnya, suksesnya BAZNAS bukan diukur dari berapa banyak dana yang terhimpun di neraca keuangan, melainkan berapa banyak senyuman di wajah Mustahik yang berhasil dikembalikan oleh integritas Muzakki.
Pernyataan senada dikemukakan Ketua PRIMA DMI Kota Makassar, Asrijal Syahruddin. Dia menambahkan, “NGOPI” merupakan adalah langkah awal yang elegan. Dengan mengawal proses suksesi kepemimpinan di BAZNAS Kota Makassar, maka Prima DMI Makassar ingin memastikan bahwa siapa pun yang nantinya terpilih, ia adalah sosok yang memiliki “hati” untuk masyarakat miskin dan “otak” yang mampu mengorkestrasi potensi zakat di Kota MULIA yang kini dipimpin Walikota Munafri Arifuddin dan Wakil Walikota Aliyah Mustika Ilham ini.
“Mencari pemimpin BAZNAS, bukan perkara memilih nama dari daftar panjang, melainkan mencocokkan visi dengan denyut nadi masyarakat Makassar. Melalui NGOPI ini, Prima DMI Makassar telah meletakkan batu pertama, bagaimana transparansi adalah harga mati, dan pelayanan umat adalah kompas utama dalam mengangkat mustahik,” ujarnya.
Asrijal Syahruddin menambahkan, ‘NGOPI’ mencari pemimpin BAZNAS Makassar ke depan membawa pesan kuat bahwa, Ibukota Sulawesi Selatan ini memang membutuhkan figur yang tidak hanya paham fikih zakat secara tekstual, tapi juga mahir dalam digitalisasi ekonomi.
“Kita ketahui bersama bahwa, di era yang demikian maju saat ini, mengelola zakat, infak, dan sedekah, atau ZIS tentunya memerlukan tangan dingin yang mampu merangkul milenial, hingga pengusaha kaya, apalagi potrensi zakat di kota ini Rp1,3 triliun,” tutup Rijal—sapaan akrabnya.
Seperti diketahui, ketiga pemateri sama sama mengakui, pemimpin BAZNAS Makassar harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Artinya, pemimpin BAZNAS itu adalah seorang yang tidak hanya duduk di belakang meja semata, melainkan mampu merasakan denyut nadi masyarakat di kawasan pesisir, di lorong-lorong/gang sempit, hingga di perkampungan perkampungan kumuh.
Pemimpin BAZNAS lima tahun ke depan, harus menjadi pembaharu dan tetap memegang teguh pada akuntabilitas berbasis syariah. Di pundaknya, amanah umat dititipkan. Di tangannya, masa depan muzakki dan mustahik di Makassar akan dibentuk.
Bahkan, di era berkemajuan saat ini, pemimpin BAZNAS tidak bisa berdiri sendiri. Dia harus memiliki kapasitas diplomatik yang kuat untuk membangun kolaborasi pentahelix, dengan Pemerintah kota, akademisi, komunitas/ormas, dunia usaha, dan media.
Selain itu, dia juga harus mampu meyakinkan para pengusaha di Makassar bahwa membayar zakat melalui Baznas bukan hanya kewajiban agama, tapi bentuk tanggung jawab sosial (CSR) yang terukur dan berdampak luas bagi stabilitas ekonomi kota. Sinergi ini akan menjadikan BAZNAS sebagai mitra strategis pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem di Makassar.
Muh.Syarif menyebut, potensi zakat di Kota Makassar Rp1,3 triliun. Karena itu, pemimpin baru BAZNAS harus mampu mengelola dan memanfaatkan potensi itu demi kesejahteraan ummat.
H.M.Ashar Tamanggong mengharapkan pimpinan BAZNAS ke depan harus selesai dengan dirinya. Artinya, ketika terpilih pemimpin BAZNAS tersebut tidak memikirkan untuk mencari hidup di lembaga pemerintah nonstruktural tersebut.
Penulis Buku “Langit tak Pernah Offline” itu pemimpin BAZNAS ke depan juga tidak boleh terlepas dari semangat “Siri’ na Pacce”. Sifat ini menjadi ruh masyarakatnya harus diterjemahkan ke dalam program zakat yang produktif.
ATM-sapaan akrab dai kondang kelahiran Takalar ini mengemukakan, pemimpin baru BAZNAS Makassar dituntut memiliki visi untuk mengubah mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pemberi zakat),” ujarnya.
Idealnya, nakhoda BAZNAS Makassar ke depan adalah seseorang yang memiliki “Otak Korporasi” (untuk memenuhi tuntutan profesionalisme Muzakki dalam mengelola dana) dan “Hati Seorang Aktivis” (untuk memenuhi kebutuhan empati dan pelayanan Mustahik).
Mencari pemimpin BAZNAS Makassar adalah mencari seseorang yang bisa mendamaikan antara “kewajiban berzakat yang harus menenangkan Muzakki” dan “penerimaan zakat yang harus memuliakan Mustahik”.
Sementara itu Amir mengemukan, seorang pemimpin BAZNAS harus memiliki integritas. BAZNAS Kota Makassar layak mendapatkan pemimpin zakat yang tidak hanya ahli dalam konsep, tetapi juga tangkas di lapangan, dan jujur dalam setiap sen yang mengalir.
Sebab pada akhirnya, suksesnya BAZNAS bukan diukur dari berapa banyak dana yang terhimpun di neraca keuangan, melainkan berapa banyak senyuman di wajah Mustahik yang berhasil dikembalikan oleh integritas Muzakki.
‘NGOPI” diakhiri dnegan tanya jawab yang berjalan santai. Pada kesempatan yang sama Ketua BAZNAS Kota Makassar, HM.Ashar Tamanggong juga menyerahkan buku “Langit tak Pernah Offline kepada pembicara, dan sejumlah peserta. (din pattisahusiwa/tim media baznas kota makassar)




