Makassar, Inspirasimakassar,id:
Di tengah laju zaman yang begitu cepat, dan kompleksnya tantangan sosial, politik, dan budaya di era berkemajuan saat ini, maka Gerakan Pemuda (GP) Ansor Ansor tidak semata entitas kepemudaan, melainkan sekaligus mesin sosial yang menyalurkan energi, keahlian, dan semangat kebangsaan ke dalam jaringan persatuan yang kuat.
Bahkan, badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan, 24 April 1934 di Banyuwangi ini pun perlu menenun benang‑benang persatuan, serta menjadikan keberagaman bukan sebagai hambatan, melainkan katalisator pembangunan nasional.
Apalagi, tantangan-tantangan ke depan, bukan lagi sekadar membela nilai-nilai kebangsaan atau menjaga tradisi keagamaan—melainkan bagaimana Ansor bisa menjadi kekuatan muda yang relevan, visioner, dan berwibawa.
Untuk itu, pemimpin Ansor Sulsel nanti harus membangun fondasi penguatan secara internal, maupun eksternal–dua pilar krusial yang saling menopang dalam mewujudkan gerakan yang tangguh dan berdampak.
Pembina GP Ansor Sulawesi Selatan, Ahmad Taslim dimintai komentarnya menjelang Konferensi Wilayah (Konferwil) GP Ansor di Asrama Haji Sudiang, 14-15 Februari nanti mengemukakan, penguatan internal bukan sekadar soal struktur organisasi semata, melainkan menyentuh jantung dari sebuah gerakan—kaderisasi, ideologi, mentalitas, dan semangat kesetiaan pada khittah–yaitu Pemuda Ansor yang memiliki semangat dasar perjuangan dalam membela agama, bangsa, dan negara berdasarkan Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
“Kita mengharapkan, pemimpin Ansor ke depan harus mampu menciptakan budaya organisasi yang sehat, inklusif, dan transformative,” urainya saat dikonfimasi di ruang kerjanya, Senin.
Ke depan juga, urai Ahamd Taslim, seorang pemimpin Ansor harus menjadikan kaderisasi sebagai nafas utama. “Ansor Sulsel harus kembali ke esensinya, menjadi wadah kader muda Nahdlatul Ulama yang berjiwa nasionalis, moderat, dan tangguh. Meski begitu, kader bukan hanya harus hadir dalam jumlah banyak, tapi harus tumbuh dengan kualitas yang unggul,” jelasnya.
Disisi lain, di tengah masyarakat yang semakin dinamis, Ansor tidak bisa lagi hanya tampil sebagai organisasi yang eksklusif atau reaktif. Karenanya, ada penguatan eksternal, dengan cara membuka diri, berdialog dengan kelompok lain, dan hadir di ruang-ruang publik dengan solusi nyata.
Meski begitu, jelas Gus Taslim, sebagai garda muda Nahdlatul Ulama, Ansor dengan teguh menjalankan amanah dan menjaga para ulama, menjaga aqidah, mempertahankan tradisi, dan memperjuangkan kesatuan umat di tengah derasnya arus perubahan zaman.
“Wibawa ulama bukan sekadar gelar kehormatan, melainkan ulama adalah cahaya. Mereka yang menjaga adab, mengajarkan ilmu, dan menjadi rujukan saat umat bimbang. Makanya, Ansor, sebagai anak-anak muda yang tumbuh dari pesantren dan masjid-masjid tradisional, merasa memiliki tanggung jawab sakral, menjaga cahaya itu tetap menyala,” tutup Gus Taslim. (din pattisahusiwa).




