Jakarta, Inspirasimakassar,id:
Visi besar yang digagas Walikota Makassar, Munafri Arifuddin mentransformasikan Makassar sebagai Kota Filantropi Nasional, bukan sekadar wacana di atas kertas. Melainkan sebuah gerakan moral, sebuah manifesto kepedulian yang kini berbuah manis. Walikota bertitel Sarjana Hukum di kampus negeri terbesar di kawasan timur Indonesia ini pun mendapat “Grand BAZNAS Award 2026”.
Ketua BAZNAS Kota Makassar, Dr.H. Usman Sofian, MA didampingi empat pimpinan BAZNAS Makassar periode 2026-2031 di arena Rapat Kerja Nasional (Rakernas) BAZNAS masing masing H. Yusran Sofian, SE, S.Kom, M.Si, Dr. Abdul Azis Ilyas, S.Ag, MH, H. Ahyar Amnur, S.Pd, M.Pd, dan Prof. Dr.Yusriani, S.Kom. M.Kes di Hotel Grand Mercure Kemayoran, Jalan H. Benyamin Sueb Kav.B6, Jakarta Pusat, Kamis sore ini mengaku bangga dengan penghargaan yang diberikan kepada Walikota Munafri Arifuddin. Ia menyebut, penghargaan yang diterima orang nomor satyu di Makassar berkategori “Walikota Pendukung Pengelolaan Zakat Terbaik”.
“Penganugerahan GRAND BAZNAS Awards 2026 kepada Bapak Walikota Makassar ini, sejatinya adalah milik seluruh warga muslim Makassar. Dan, yang lebih penting, penghargaan ini membuktikan bahwa, kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari seberapa tinggi gedung-gedung pencakar langitnya, atau seberapa mulus jalan-jalan tolnya, melainkan dari seberapa peduli pimpinannya kepada kemajuan ummat dan terhadap sesama. Ini juga sekaligus membuktikan bahwa, zakat, infak, dan sedekah, atau ZIS telah membumi di seluruh Kota Makassar,” tuturnya.
H. Usman Sofian mengaku, dengan penghargaan yang diterima walikota Makassar, berarti gagasan Makassar sebagai Kota Filantropi Nasional yang akan dideklarasikan 9 November nanti, bersamaan dengan hari jadi Kota Makassar ke-419 sebagai bukti betapa walikota berpasangan dengan Wakil Walikota Aliyah Mustika Ilhan ini benar benar terwujud. Itu berarti, Kota Filantropi—sebuah mercusuar kemanusiaan di Indonesia bagian timur yang mengajarkan bahwa, berbagi bukanlah tentang seberapa banyak yang miliki, tetapi tentang seberapa besar keikhlasan guna meringankan beban orang lain.
Menurutnya, sebenarnya, gagasan kota filantropi, berawal dari sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam, bagaimana menjadikan setiap jengkal di kota Anging Mammiri ini sebagai tempat di mana kuat menopang yang lemah, tanpa sekat dan tanpa prosedur birokrasi yang rumit.
Di bagian lain, Sekretaris FKUB Kota Makassar itu mengibaratkan, dalam pandangan modern, filantropi bukan lagi sekadar memberi ikan (amal karitatif konvensional), melainkan membangun tambak, mengajarkan cara memancing, dan memastikan ekosistem perikanannya berkelanjutan. Untuk itulah, gagasan Kota Filantropi, menerjemahkan nilai-nilai luhur keagamaan dan budaya lokal (Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge) ke dalam kerangka manajerial tata kelola kota yang saintifik.
Dalam perspektif ini, pemerintah kota tidak berjalan sendiri. Walikota berhasil mentransformasikan BAZNAS dari sekadar lembaga pengumpul dana sosial biasa, menjadi mitra strategis pembangunan kota. Zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (DSKL) diintegrasikan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
‘Selamat kepada Walikota Makassar, Munafri Arifuddin. Teruslah merajut kebaikan, karena dari Kota Filantropi inilah, asa masa depan Makassar yang lebih adil dan beradab mulai dinyalakan. Kota Makassar membutuhkan seorang visionary urban alchemist, seseorang yang mampu mengubah potensi solidaritas sosial menjadi energi penggerak kesejahteraan,” tutup Uso–sapaan akrabnya. (din pattisahusiwa/tim media banzas makassar)




