Maros, Inspirasimakassar,id:
Program Makkah Route (atau dikenal sebagai inisiatif fast track) adalah layanan percepatan proses keimigrasian bagi jemaah haji yang dilakukan langsung di bandara keberangkatan di negara asal, sehingga jemaah tidak perlu lagi mengantre di bandara kedatangan di Arab Saudi.
Kehadiran program Makkah Route ini mendapat apresiasi tinggi dari Bupati Maros, Chaidir Syam. Inovasi ini membawa perubahan signifikan dalam proses keberangkatan jemaah haji, khususnya Embarkasi Makassar.
Chaidir Syam mengemukakan, fasilitas fast track di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin mampu memangkas proses panjang yang selama ini menjadi tantangan bagi jemaah, khususnya saat tiba di Arab Saudi.
Bupati dua periode ini melihat, program Makkah Route merupakan inovasi layanan yang memungkinkan seluruh tahapan keimigrasian Arab Saudi dilakukan di bandara keberangkatan. Dengan sistem ini, setibanya di Tanah Suci, jemaah dapat langsung menuju akomodasi tanpa proses tambahan, menjadikan perjalanan lebih cepat, nyaman, dan efisien.
Tentunya, jelasnya, selain di Makassar, layanan ini juga diterapkan di sejumlah embarkasi lain seperti Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Adi Soemarmo, dan Bandara Juanda. Seluruhnya terhubung langsung dengan bandara tujuan di Arab Saudi, termasuk Bandara Pangeran Mohammad bin Abdulaziz.
Menurutnya, tidak hanya mempercepat proses imigrasi, Makkah Route juga mencakup layanan komprehensif seperti perekaman biometrik, penerbitan visa elektronik, pemeriksaan kesehatan, hingga pengelolaan bagasi yang langsung dikirim ke tempat penginapan jemaah.
“Dengan berbagai inovasi layanan seperti Makkah Route, penyelenggaraan ibadah haji kini tidak hanya berfokus pada keberangkatan, tetapi juga pada kenyamanan dan keselamatan jemaah sejak awal perjalanan. Pemerintah berharap seluruh jemaah dapat menunaikan ibadah dengan khusyuk dan kembali ke tanah air dalam keadaan sehat serta meraih predikat haji yang mabrur,” harapnya.
Di bagian lain, mantan Ketua DPRD Maros itu mengaku, seluruh proses pemeriksaan paspor dan visa kini dapat diselesaikan sejak di tanah air, sehingga jemaah tidak lagi harus mengantre di bandara tujuan. “Ini sangat membantu, terutama bagi jemaah lansia. Setelah perjalanan panjang, mereka tidak lagi kelelahan karena harus menjalani proses imigrasi di sana,” ujarnya saat mendampingi jemaah Kloter 14 asal Maros, Kamis 30 April 2026.
“Kloter 14 tahun ini sepenuhnya diisi oleh jemaah asal Kabupaten Maros. Dari total 626 jemaah, sebanyak 387 orang diberangkatkan dalam satu penerbangan penuh, dengan sekitar 60 persen di antaranya merupakan lansia,” ujarnya.
Meski berbagai kemudahan telah dihadirkan, Bupati tetap mengingatkan jemaah untuk menjaga kondisi fisik selama menjalankan ibadah, mengingat suhu di Mekkah dan Madinah cukup ekstrem. “Jaga kesehatan, istirahat yang cukup, dan ikuti arahan petugas. Itu kunci agar ibadah bisa berjalan lancar,” tutup bupati yang bertitel Doktor. (titi)




