Makasar, Inspirasimakassar,id:
Masjid Al-Kautsar Citraland Tallasa City sukses menggelar Tablig Akbar. Kesuksesan dalam hajatan spritual ini, lantaran penceramahnya adalah ulama kharismatik muda, Sholeh Mahmoed, atau biasa disapa, ustaz Solmed.
Ketua Masjid Al-Kautsar Citraland Tallasa City, Dr.Taufan Kurniawan,SE,MM, mengakui kesuksesan Tablig Akbar juga tidak terlepas dari kolaborasi yang kuat berbagai elemen. Misalnya, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar.
Dan yang lebih penting, dibalik kesuksesan ini juga terlihat satu nama yang mencuri perhatian banyak jamaah yang mensesaki masjid megah dan pelatarannya, yakni Organisasi Massa (Ormas) Elang Timur Indonesia.
Betapa tidak, organisasi yang lahir di bulan Sumpah Pemuda, Oktober 2025 itu mendapat kepercayaan dan amanah mengawal kelancaran kegiatan yang berlangsung pada, Sabtu, 10 Januari 2026, siang hingga sore hari ini.
Kepercayaan itu disampaikan dalam surat bernomor 46/MAK-CLTC/I/2026 yang ditandatangani Dr.Taufan Kurniawan,SE,MM, dan Ardiansyah,SE,M.Si (Sekretaris) Pengurus Masjid Al-Kautsar Citraland Tallasa City, Kelurahan Kapasa, Kecamatan Tamalanrea, pertanggal 8 Januari 2026.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Elang Timur Indonesia, Imran, mengaku bangga atas kepercayaan yang diberikan Pengurus Masjid Al-Kautsar Citraland Tallasa City kepada Ormas yang dipimpinnya.
Baginya, tablig akbar, di tengah gelombang aktivitas kota yang tak pernah berhenti, merupakan sebuah momen spiritual yang sarat makna. Jamaah yang hadirpun begitu banyak, sehingga bukan sekadar perhelatan keagamaan, melainkan benteng rohani di tengah arus modernitas yang terkadang melupakan nilai-nilai luhur.
Imran mengemukakan, meski Ormas yang memegang teguh pada moto “solid, tajam, dan tangguh—jaya, jaya, jaya” itu dikenal tegas, dan disiplin, namun penuh empati, sehingga pendekatan yang dilakukan adalah mengedepankan cara cara humanis—mengawal tanpa menghalangi.
Di bagian lain Imran mengemukakan, jika ditilik dari cerita cerita urban, bisa saja dulunya, elang timur adalah burung pemangsa. Tapi hari ini, di bawah langit Kota Makassar yang tidak bersahabat—hujan lebat, elang timur terbang bukan untuk menerkam—melainkan menjaga dan menaungi. Itu bertanda, dalam diri setiap kader Elang Timur Indonesia telah tertanam prinsip prinsip “ikhtisar al‑amal” (peninjauan amal), termasuk memegang teguh pada tiga pilar utama syariah, yakni kejujuran, keadilan, dan kasih sayang.
“Kehadiran Elang Timur Indonesia dalam hajatan akbar ini, apalagi pelaksanaannya di ‘rumah Allah’—Masjid Al-Kautsar Citraland Tallassa City ini sebagai penanda, Ormas yang kami pimpin ini, diam-diam juga menjalani perjalanan dari marjinalitas menuju legitimasi sosial. Dan, perlu diingat bahwa, pengamanan tabligh akbar ini bukan hanya soal menjaga fisik ustadz Solmed dan jamaah semata, melainkan sekaligus tentang menghadirkan rasa aman,” tuturnya, didampingi Sekretaris Umum, Ahmad Rusli.
Sarjana Ekonomi Universitas Veteran-RI itu juga menyaluti kader kader Elang Timur Indonesia yang berada dalam ikatan ukhuwah, dan barisan yang kokoh.
“Setelah para kader Elang Timur Indonesia menjalankan amanah dari pengurus Masjid Al-Kauatsar Citraland Tallasa City ini mereka kembali dengan satu kepuasan, “amanah telah berjalan, jamaah merasa damai, dan tablig akbar, dilaksanakan dengan hikmad,” tutup pria kelahiran 1985 itu.
Salah seorang pengurus masjid Al-Kautsar mengemukakan, anak anak muda Ormas Elang Timur Indonesia ramah.
“Awalnya, saat mendengar Ormas Elang Timur Indonesia terlintas mereka garang, tapi hari ini saya melihat mereka seperti penjaga yang menjaga keluarganya sendiri. Mereka menjadi mitra dalam menjaga ruang-ruang publik yang baik. Saya salut,” ujarnya.
Seperti diketahui, dalam tausiahnya, Ustadz Solmed yang dikenal karena khotbah-khotbahnya yang memadukan kebijaksanaan kitab suci yang mendalam dengan wawasan sosial modern.
Dengan mengenakan jubah sederhana, dan sarung (kain tenun tradisional), Ustadz Solmed berdiri di tengah tengah jamaah, didampingi sang istri, April Jasmin. Tausiahnya menggema dengan kisah-kisah pertemuan ilahi Nabi.
Termasuk mengurai begitu panjang perjalanan spiritual yang menuntun manusia pada kesadaran bahwa, kekuatan terbesar bukan di tangan, tapi di hati. Dia mencontohkan kisah Nabi Besar Muhammad SAW yang menitikberatkan pada pendekatan dan hubungan yang lebih baik.
Ustadz Solmed di momen ini mengambil inspirasi dan keteladan nabi akhir zaman, Muhammad SAW. Ustadz berbicara tentang Sabilillah (jalan Allah) sebagai tanggung jawab bersama.
“Kisah perjalanan Nabi Muhammad adalah peta untuk kehidupan kita sehari-hari—bagaimana kita berbagi kemaslahatan, bagaimana kita melindungi masjid, bagaimana kita saling membimbing dengan penuh kasih sayang,” urainya.
Sebelum meninggalkan lokasi tablig akbar, ustadz Solmed berpose dengan “pasukan” Ormas Elang Timur. (din pattisahusiwa)




