
Makasssar, Inspirasimakassar.com:
Pada masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Sulawesi Selatan mengalami inflasi sebesar 0,09%(mtm), atau mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat deflasi sebesar -0,25%(mtm).
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan, Budi Hanoto menjelaskan, laju inflasi dipengaruhi dengan kenaikan harga pada kelompok kesehatan, pakaian dan alas kaki, makanan, minuman dan tembakau.
“Naiknya harga cabai rawit, ikan layang/benggol dan kangkung, harga obat mempengaruhi laju inflasi namun tertahan pada penurunan tarif transportasi udara sehingga Inflasi tahun 2021 diprakirakan tetap terkendali dan berada dalam target sasaran”, ungkapnya.
Meskipun demikian, Kata Budi Hanoto, inflasi Sulsel secara keseluruhan baik tahunan maupun tahun kalender sebesar 2,00%(yoy) dan 1,51%(ytd), masih berada dalam sasaran target inflasi nasional yaitu 3,0±1% pada Tahun 2021, Selasa 3 Agustus 2021.
Menurut Budi Hanoto, secara bulanan, inflasi Sulsel dipengaruhi oleh kelompok kesehatan sebesar 0,70%(mtm), pakaian dan alas kaki sebesar 0,21%(mtm), rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,21%(mtm), serta kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,20%(mtm).
Langkah strategis yang dilakukan Bank Indonesia dalam menekan laju inflasi seperti menggelar pasar murah dan operasi pasar untuk menjaga kestabilan harga, serta mengoptimalkan penyaluran beras PPKM untuk Keluarga Penerima Manfaat dalam Program Keluarga Harapan dan Bantuan Sosial Tunai. (hadi)




