
Makassar, Inspirasimakassar.com:
Penolakan draf Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) Pemeritan Kota (Pemkot) Makassar tahun 2020 oleh Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makasaar terus bergulir.
Banggar menilai Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar lebih memberi prioritas pada proyek fisik. Sementara kebutuhan dasar guna menekan dampak pandemi ke masyarakat tidak tertangani.
Sekalipun demikian, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Makassar, Andi Khadija Iriani mengemukakan, sebenarnya apa yang telah diusulkan Pemkot Makassar dalam KUA-PPAS semata-mata untuk memajukan Kota Makassar ke depan agar lebih baik.
“Bagi kami, tidak ada tujuan lain, melainkan bagimana kota Makassar ini lebih indah, lebih cantik dan membuat orang lain penasaran,” urainya kepada wartawan di Rumah Jabatan (Rujab) Wali Kota Makassar, Jumat, 2 September 2020.
Menurutnya, pembangunnan sarana dan prasarana disebut akan menambah investasi pariwisata Kota Makassar kedepan. Termasuk pertumbuhan ekonomi masyarakat diklaim akan meningkat melalui Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
“Jadi tujuannya seperti itu. Semua sara Infrastruktur di perbaiki agar supaya investasi orang gampang masuk, dikasi keringanan. Orang banyak datang tentu dampaknya pada UMKM kita juga,” jelas Andi Khadija Iriani.
Di bagian lain Andi Khadija Iriani menyebutkan, berbagai bentuk perencanaan selalu beriorentasi pada rencana jangka panjang, termasuk pembangunan.
“Kami juga meyakini apa yang direncanakan Pemkot Makassar hari ini akan berkelanjutan, termasuk pada wali kota definitive nanti. Karena tidak mungkin wali kota mau mengubah begitu saja karena itu kerjaan yang baik dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tambahnya.
Menyinggung tudingan Badan Anggaran (Banggar) DPRD Makassar soal APBD Perubahan lebih banyak pada proyek fisik dan mengesampingakan proyek padat karya yang bisa menyerap tenaga kerja, Iriani mengakui, infrastruktur itu pasti menyerap banyak tenaga kerja.
” Saya kira kalau terkait hal itu, misalkan infrastruktur itu kita harap menyerap tenaga kerja lokal itu yang pertama. Kedua, setelah itu dampak pemulihan ekonomi. Sebenarnya bukan fokus pada satu titik, tapi semuanya terjangkau semua berdampak. (ishadi ishak)




