Kamis, Juni 25, 2026
Google search engine
BerandaBeritaIdul Qurban, Prof.Hasbollah Toisutta Minta Warga Siri Sori Islam Taati Raja

Idul Qurban, Prof.Hasbollah Toisutta Minta Warga Siri Sori Islam Taati Raja

Prof.Hasbollah Toisutta (jas hitam)

Siri Sori Islam, Inspirasimakassar.id:

Idul Qurban memberikan pelajaran bahwa, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang “siap disembelih” egonya.  Kepemimpinan yang dibutuhkan bukan yang membangun tembok pemisah, melainkan yang membangun jembatan—baik secara fisik maupun sosial.

Kepemimpinan yang visioner, setidaknya harus mampu melihat bahwa, setiap masyarakat yang dipimpinnya adalah bagian dari tubuh yang sama. Jika satu bagian sakit, karena kekurang perhatian, maka seluruh tubuh negeri harus merasakannya. Inilah esensi dari qurban. Rasa sakit yang dibagian dan keberkahan yang dirasakan bersama.

Jika memandangnya dari kacamata sosiologis dan spiritual, maka idul Qurban bukan sekadar ritual individu, melainkan sebuah Muktamar Dunia Islam yang paling agung, paling nyata, dan paling inklusif yang pernah ada dalam sejarah kemanusiaan.

Dan, hari ini mata dunia tertuju pada satu titik koordinat, Makkah al-Mukarramah. Jutaan manusia dari segala penjuru bumi, dengan latar belakang bahasa, budaya, ras, dan status sosial yang berbeda, bergerak menuju satu destinasi yang sama.

Demikian di antara yang mengemuka dari Khutbah Hari Raya Qurban  yang disampaikan Prof. Dr.H.Hasbollah Toisutta,M.Ag di Masjid Baiturrahman Siri Sori Islam, pagi tadi. Sekitaran dua ribuan jamaah yang juga dihadiri Raja Negeri Siri Sori Islam, Syarifuddin Pattisahusiwa itu bertindak sebagai imam, Dr.H. Djar Wattiheluw.

Prof. Dr.H.Hasbollah Toisutta,M.Ag juga mengaitkan idul Qurban dengan kepemimpinan di Negeri Siri Sori Islam. Menurutnya, kepemimpinan seorang raja bukan sekadar jabatan, tetapi adalah amanah besar yang harus dipikul dengan penuh tanggungjawab, sebagaimana Nabi Ibrahim relah mengorbankan sesuatu yang amat dicintainya, demi menjalankan perintah Allah SWT.

Nabi Ibrahim dengan kisah qurbannya, mengajarkan bahwa, kepemimpinaan adalah pengabdian. “Karena itulah, seorang raja, bukanlah penguasa, melainkan pelayan masyarakat. Yaitu, untuk membawa masyarakat kearah  yang lebih baik. Menegakkan keadilan, memperhatikan yang lemah, dan membangun kehidupan yang penuh berkeberkahan,” urainya.

H.Hasbollah yang menyampaikan pidato pengukuhan sebagai Maha Guru berjudul “Gerakan Salafi di Maluku dalam Dinamika Sejarah Kontemporer (Perspektif fiqih Siyasah) itu menambahkan, sebagai warga Siri Sori Islam, berkewajiban untuk taat dan patuh pada raja, serta kerja kerja yang berdampak pada kemaslahatan bersama.

Ketua Ikatan Keluarga Siri Sori Islam  (IKASSI) Ambon itupun mengaitkan firman Allah “aathi’u liaha wa athie’ur rasul wa ulil amri munkum–taatilah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada rasul, serta para pemimpin kamu. Ini memberikan penegasan tentang kewajiban mentaati pemimpin.

“Untuk itulah, ayo tugas kita sebagai rakyat  Siri Sori Islam, selain taat kepada raja, juga mendukungnya dengan kerja kerja keras bersama, mendukung dengan memberikan gagasan, ide, dan pemikiran yang konstruktif bagi upaya kesejahteraan dan keutuhan bersama di negeri asal Kapitan Said Perintah ini.’

Sebelum mengakhiri khutbahnya, H.Bollah sapaan akrabnya memberikan tiga point penting. Pertama, displin, larangan untuk bantah-bantahan, dan bersabar.

Pemimpin dalam Islam diamanahkan untuk dapat menggerakan semua sumberdaya yang ada secara disipilin. Sumber daya material, berupa potensi darat, laut, hingga perut bumi. Juga sumber daya inmaterial, yaitu SDM masyarakat negeri Siri Sori Islam.

“Negeri Siri Sori Islam punya hutan subur, lautan yang kaya, juga kaya potensi SDM-nya. Banyak orang Siri Sori Islam cerdas. Sayangnya belum dimanfatakan secara maksimal. Makanya kepemimpinan raja baru sejatinya dapat menggerakan semua potensi yang ada,” ujarnya.

Menyinggung larangan untuk bantah-bantahan, atau bakumalawang, H.Bollah melihat jika dibiarkan akan menjadi hilangnya kekuatan.

“Energi kita yang seharusnya dimaksimalkan untuk membangun, hilangnya daya gerak kita, hilangnya kekuatan, sama artinya dengan memberi ruang untuk orang lain maju, dan kita tinggal di tempat. Karena itu, hentikan baku malawang, hentikan lapor melapor. Bila ada permasalahan, diselesaikan di negeri sendiri. Jangan menyebar dan menjadi aib negeri,” urainya.

Dan ketiga bersabar. Sabar tidak tidak berarti  fatalis menerima nasib. Sabar adalah, daya tahan terhadap tantangan, di tengah tengah bekerja. Sabar berati turun ke gelanggang dengan optimis bekerja untuk kemakmuran bersama.

Sebelum mengakhiri khotbahnya, H.Bollah mengajak seluruh masyarakat Siri Sori Islam mendoakan kepemimpinan Raja Syarifuddin Pattisahusiwa agar bisa membawa perubahan dan kesejahteraan. (din pattisahusiwa)

Din Pattisahusiwa
Din Pattisahusiwahttps://inspirasimakassar.id
Wartawan kriminal dan politik harian Pedoman Rakyat Ujungpandang dan sejumlah harian di Kota Daeng Makassar, seperti Ujungpandang Ekspres (grup Fajar) dan Tempo. Saat ini menjadi pemimpin umum, pemimpin perusahaan, dan penanggungjawab majalah Inspirasi dan Website Inspirasimakassar.com. Sarjana pertanian yang juga Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali--kini Universitas Islam Makassar ini menyelesaikan pendidikan SD di tanah kelahirannya Siri Sori Islam Saparua, SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon. Aktif di sejumlah organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Di organisasi kedaerahan, bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuhepaly ini beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan memiliki dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa. Pernah diamanahkan sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar. Kini, Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar.
RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments