Maros, Inspirasimakassar,id:
Krisi air bersih adalah kondisi saat ketersediaan air layak pakai tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Masalah ini sering terjadi akibat kemarau panjang, alih fungsi lahan hutan, pencemaran lingkungan, dan kerusakan infrastruktur air. Di Maros salah satunya.
Sedikitnya 92 ribu jiwa di Kabupaten Maros mulai terdampak krisis air bersih akibat musim kemarau yang memasuki puncaknya pada Juli 2026. Saat ini, terdapat tujuh kecamatan yang mulai merasakan dampak kekeringan. Tiga di antaranya mengalami kondisi paling parah, yakni Kecamatan Bontoa, Lau, dan Maros Baru.
“Berdasarkan rilis BMKG kemarau sudah terjadi sejak awal Juni lalu, dan perkiraan puncak musim kemarau ada di bulan Juli. Di Kabupaten Maros ada tiga Kecamatan yang telah terdampak sangat parah, yakni Kecamatan Bontoa, Maros Baru dan Lau,” tutur Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros, To Wadeng, Ahad, 12 Juli 2026.
Menurutnya, sekitar 92 ribu jiwa di tujuh kecamatan tersebut mulai merasakan dampak berkurangnya ketersediaan air bersih di Kecamatan Bontoa, Lau, Maros Baru, Turikale, Moncongloe, Mandai, dan Marusu.
“Yang paling banyak itu di Kecamatan Bontoa. Dari tujuh Kelurahan dan Desa yang ada, sekitar 90% wilayahnya telah terdampak. Di kecamatan ini ada sekitar 32 ribu jiwa. Memang mereka sudah sangat membutuhkan air bersih,” urainya, seraya sejumlah wilayah di Maros memang menjadi langganan kekeringan ketika hujan tidak turun selama sekitar satu bulan.
To Wadeng memprediksi jumlah wilayah terdampak akan bertambah. Jika tahun lalu terdapat delapan kecamatan yang mengalami kekeringan, tahun ini diperkirakan meningkat menjadi 10 kecamatan akibat musim kemarau ekstrem, masing masing Kecamatan Turikale, Marusu, Maros Baru, Mandai, Moncongloe, Tanralili, Bantimurung, Simbang, Bontoa, serta Lau. (titi)




